The beauty of diversity

Di kota ini aku bertemu, berkenalan serta berkawan dengan berbagai orang dari berbagai bangsa. Ada yang dari China, India, Vietnam, Malaysia, Taiwan, Australia sendiri, Pakistan, Bangladesh, Thailand, Hongkong, Jepang, Arab, Philipina, dll. Pada awalnya kita nggak saling kenal, namun ketika senyum dikembangkan, kata hello diucapkan, maka kitapun jadi kenal. Dari sekedar kenal, mulai berinteraksi, saling ngobrol akhirnya menjadi “sedikit lebih kenal”. Hebatnya, sedikit konflik yang kadang terjadi memaksa kita untuk mencari solusi, diskusi mencari titik temu dan saling mencoba mengerti pun terjadi, ….. gara-gara yang terakhir itu …. kami menjadi “lebih kenal lagi”.

Berikutnya, bercanda dan menggooda pun sering kami lakukan. Meski kadang ada yang marah, tapi marah itu biasanya langsung sirna ketika maaf telah diucapkan. Lucunya kemarahan dan rasa sebal itu datang hanya karena perbedaan kultur dan cara pandang. Begitu dijelaskan, maka pengertian yang indah akan budaya yang berbeda membuat kami lebih saling mengerti, dan dengan mudah … senyum akan terkembang (lagi). Saat ini kami laksana bersaudara sebagai sesama manusia, kalau lama tak jumpa maka akan muncul rasa kehilangan. Saat aku tak datang misalnya, maka dering telepon atau kiriman sms untuk sekedar bertanya, biasanya akan segera mereka layangkan. Mungkin mereka merasa kehilangan …. he he he ….. sungguh suatu keindahan persahabatan.
Mungkin inilah hikmah dari adanya perbedaan, indahnya manusia dicipta tuhan menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku yang beraneka macam. Membuat kita berusaha saling belajar, berusaha saling memahami, mengerti mereka (yang juga ternyata membantu kita untuk lebih mengenali diri kita sendiri) saling menyapa, dan menjalin persaudaraan diantara semua umat manusia.

Jika semua mau saling mengenal, dan menghargai….. maka perdamaian adalah suatu keniscayaan.

Tinggalkan Balasan