10 HAL YANG PATUT DIHINDARI

SEPULUH HAL YANG PATUT DIHINDARI

  1. Menguliahi Alih-alih Mendiskusikan. Kita ingin remaja menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab yang mampu mengambil keputusan. Kalau begitu, mengapa kita memberi kuliah kuno kalau kita bisa memakai setiap masalah sebagai kesempatan untuk mengajarkan kepadanya proses membuat keputusan yang baik? Dengan memperlakukannya seperti anak-anak kecil, bukan sebagai sahabat orang dewasa, hanya akan mengasingkan remaja kita. Bukan berarti mereka tak lagi butuh bimbingan, namun musti ditangani dalam cara yang lebih dewasa, dengan diskusi, negosiasi, dan memahami bahwa remaja yang tengah tumbuh memiliki berbagai kebutuhan yang acap saling bertentangan. Mereka membutuhkan rumah yang aman dan mengetahui bahwa orangtuanya ada di sana, tetapi bukan kontrol menyesakkan dari seorang munafik yang overprotektif.
  2. Mengabaikan yang Jelas. Remaja kita mendadak suka tidur larut malam, membolos, tak mematuhi jam malam, tidak memperkenalkan teman-teman barunya, dan kita menganggapnya sebagai “perilaku jamak remaja sekarang.” Kita sering menunggu sampai situasi sudah kritis, seperti burung unta yang mengubur kepalanya di dalam pasir, untuk menghindari konfrontasi dan agar remaja kita tidak semakin menunjukkan sikap bermusuhan dan melawan. Kalau tidak bereaksi berlebihan, kita malah tak bereaksi sama sekali.
  3. Tidak Menindaklanjuti Aturan dan Konsekuensi. “Kamu dihukum! Tidak ada uang jajan minggu ini!” Kebanyakan orangtua tak punya kesulitan dalam menciptakan hukuman karena anaknya melanggar aturan. Namun itu hanya berlaku beberapa hari yang kemudian menimbulkan siklus penyimpangan: anak Anda malah berulah yang membuat Anda merasa gila sampai Anda mencabut konsekuensi yang Anda berikan. Kalau Anda membuat aturan, sangat penting untuk jauh-jauh hari menjelaskan kepada anak Anda apa saja konsekuensinya kalau aturan itu dilanggar. Kalau aturan dilanggar dan Anda tidak memberikan konsekuensi yang telah ditetapkan, maka remaja Anda tahu bahwa lolos dari hukuman adalah soal sepele.
  4. Mematok Tujuan-tujuan yang Tidak Masuk Akal. Pastikan kalau Anda menetapkan tujuan, memang bisa dicapai. Jika anak Anda mengalami gangguan belajar, meneriakinya karena mendapat nilai buruk dalam ulangan matematika tidak akan membuatnya lebih berprestasi pada ulangan berikutnya. Pancanglah harapan-harapan sukses berdasarkan kemampuan anak Anda. Bila anak Anda membutuhkan bantuan akademik, carilah tutor dan ikutkan les atau kursus usai sekolah. Kalau Anda ingin anak Anda menjadi pianis konser padahal dirinya tak beranjak dari tingkat dasar, cobalah cari hal lain di mana ia punya kemampuan alamiah untuk berhasil di dalamnya.
  5. Menuding yang Negatif Melulu, Tetapi Berharap Hanya yang Positif. Apakah Anda hanya mengharapkan perilaku baik, nilai-nilai tinggi, dan segala kebaikan, dengan sedikit pujian, tetapi dengan cepat menuding setiap kesalahan atau tindakan kurang pikir panjangnya? Sebagian orangtua percaya bahwa perilaku baik atau tugas yang dilakukan dengan tuntas dan baik itu sendiri sudah merupakan ganjaran yang bermanfaat. Ini memang benar, tetapi anak-anak akan lebih terdorong dan bangga jika memperoleh pujian dan masukan positif dari orangtuanya. Bukan berarti Anda musti melompat-lompat kegirangan karena anak Anda tidak membolos minggu ini. Kalau Anda menetapkan konsekuensi-konsekuensi untuk perilaku buruk, maka ganjarannya adalah melakukan hal-hal yang jamaknya mereka nikmati. Contoh lainnya seperti ini: kalau Anda muncul setiap hari di kantor, bos Anda tidak akan memuji; ia hanya akan membayar gaji Anda seperti seharusnya.
  6. Membiarkan Pendidikan Menjadi “Urusan Pihak Lain.” Menganggap anak Anda akan belajar soal bahaya obat-obatan, alkohol dan perilaku berisiko lain di sekolah atau di tempat lain adalah asumsi yang sangat berisiko. Penelitian membuktikan bahwa anak-anak yang orangtuanya mengobrol dengannya perihal perilaku berisiko tinggi dan yang menetapkan pedoman jelas mengenai konsekuensi perbuatan itu ternyata adalah anak-anak yang tidak merokok, minum minuman keras, memakai obat terlarang atau berhubungan seks.
  7. Tidak Punya Waktu Keluarga – Terlalu Banyak Kesibukan. Waktu keluarga sangatlah penting. Jangan hanya beretorika soal “quality time.” Lakukan tindakan konkrit menyisihkan waktu setiap hari untuk keluarga, dengan makan bersama dan mengobrol. Inilah pertahanan terbaik ala catenaccio kesebelasan Italia dalam melawan pengaruh buruk teman-teman bermainnya terhadap remaja Anda. Sisihkan waktu bagi anak-anak Anda setiap hari untuk selalu membuka saluran komunikasi. Orangtua yang meluangkan waktu dengan anak-anaknya akan lebih menyadari perubahan-perubahan perilaku dan sikapnya. Orangtua yang jarang punya waktu bersama dengan anak-anaknya, perlu waktu lebih lama, bahkan sulit, mengenali perubahan-perubahan anaknya yang menandakan mereka tengah dilanda masalah.
  8. Menganggap Nilai-nilai Baik Berarti Tidak Ada Masalah. Anak pintar dan cerdas bisa saja tetap mendapat nilai-nilai bagus walau mereka memakai obat-obatan terlarang. Malah, mereka mungkin tahu bahwa dengan mempertahankan nilai-nilainya maka mereka bisa menghindari kecurigaan orangtuanya. Jangan singkirkan tanda-tanda lain masalah hanya karena nilai-nilainya tidak merosot.
  9. Tidak Menyisihkan Waktu untuk Mengetahui ‘Tren’ Remaja Sekarang. Kita semua pernah menjadi remaja. Namun tiap generasi berbeda. Musik mereka berbeda, begitu pula pengaruh budaya populer lainnya. Ikon remaja 80-an dan 90-an, berbeda dari remaja abad 21. Kini pengaruh media jauh lebih kuat. Bukan hanya TV dan radio, tetapi terlebih-lebih Internet. Semua orang bisa membikin situs. Misalnya, ada situs gadis-gadis penderita anoreksia yang mengajarkan anak-anak perempuan lain bagaimana cara menyembunyikan penyakitnya. Karena itu, orangtua musti mengikuti perkembangan budaya populer maupun teknologi – utamanya memahami pengaruh dan dampaknya pada pengambilan keputusan anak Anda. salah satu cara terbaik untuk mengendalikan pengaruh itu adalah menempatkan komputer di ruang keluarga sehingga ‘mempersulit’ remaja Anda mengunjungi situs-situs yang berpengaruh negatif atau berbahaya.
  10. Terlalu Cepat Menyerah: Lupa Aturan “Tiga Kali.” Kebanyakan remaja yang tahu cara-cara kreatif mendapatkan apa yang diinginkannya, tidak akan menyerah setelah Anda sekali melarangnya. Apalagi kalau Anda tidak konsisten menerapkan konsekuensi. Hadapilah: anak Anda akan terus menguji daya tahan Anda. Mereka akan menyobanya sekali, dua kali, dan lagi. Mereka akan mencari-cari celah dan keretakan setiap saat. Remaja itu cerdik. Mereka tahu kalau Anda letih dan frustrasi, dan sering punya kemampuan ganjil mencobai Anda persis di saat Anda tak punya energi sama sekali untuk melawannya. Tetapi jangan pernah menyerah. Bersikaplah konsisten. Tetaplah awas. Ini memang terdengar penggelisah, namun sebagai orangtua, tugas utama Anda adalah membesarkan anak-anak untuk menjadi orang dewasa yang mandiri. Kalau Anda mengabaikan tanggung jawab penuh-waktu ini, orang lain akan mengajarkan sesuatu kepadanya, dan orang lain itu tak selalu punya niat baik. DB

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D

Untuk konsultansi, pemetaan bakat, intelijensi dan kepribadian, serta permintaan untuk seminar-workshop, hubungi Intan di 0813-1641-0088.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s