Agar Batita Tak Suka Memukul

Agar Batita Tak Jadi Mike Tyson! 

Tanya: Putraku (Adrian, 2 tahun) mudah sekali terpancing emosinya. Selain cepat marah, dia juga ‘ringan tangan’. Kalau permintaannya tidak dipenuhi atau dilarang, Adrian spontan memukul saya atau pengasuhnya. Saya beberapa kali ditegur guru play group-nya karena Adrian memukul teman sekelasnya. Saya khawatir kebiasaan tersebut akan terbawa hingga dia dewasa. Bagaimana cara mengatasinya? Terimakasih. Amanda – Banjarmasin.

Jawab: Pada usia batita, anak belum dapat mengungkapkan keinginan atau perasaannya melalui kata-kata karena kemampuan bahasanya belum berkembang baik. Ketika anak merasa tidak nyaman dengan lingkungan atau diperlakukan tidak seharusnya, dia akan  bereaksi atas ketidaknyamanannya tersebut, yakni dengan cara memukul, menendang, melempar dan sebagainya. Atau saat anak menginginkan sesuatu namun lingkungan tidak memberikan apa yang diinginkan, bahkan orangtua melarangnya, anak akan memunculkan reaksi yang diharapkan dapat dipenuhi oleh lingkungannya.

Bentuk reaksi yang diperlihatkan anak pada usia ini masih dikatakan wajar bila merujuk pada tahap perkembangan bahasa mereka yang masih terbatas. Reaksi yang diperlihatkan anak juga merupakan cara mereka untuk menyampaikan keinginannya atau bentuk komunikasi mereka pada orang lain, sehingga perilaku yang diperlihatkan pada usia ini  belum dapat dikatakan sebagai perilaku yang agresif. Karena definisi agresif adalah suatu cara atau tindakan yang dilakukan seseorang  untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain. Dan pada usia batita, anak belum memiliki maksud untuk menyakiti orang lain namun lebih mengarah pada terbatasnya komunikasi dan bahasa saja. Selain itu, anak masih terfokus pada ‘dirinya’ atau rasa egosentris masih sangat kental terlihat.

Akan tetapi perilaku agresi tersebut bukan berarti diperbolehkan. Jika perilaku ini tetap melekat pada diri anak, maka ada kemungkinan anak memiliki dorongan agresif yang dapat melekat hingga dia dewasa. Karena sepanjang hidupnya, anak tidak belajar menyelesaikan persoalan yang dihadapi dengan cara lain yang lebih baik selain penyelesadian masalah yang bersifat destruktif.

Trik Jitu Atasi Perilaku Agresif

Bu Amanda, untuk mencegah si kecil menjadi anak yang berperilaku agresif maka lingkungan menjadi kontrol utama, terutama orangtua. Ada beberapa cara yang dapat diterapkan orangtua.

Pertama, tentukan batas perilaku yang seharusnya dilakukan anak. Pada usia batita, sebenarnya anak mulai mengerti batasan sederhana yang dikatakan, meskipun tidak selalu mematuhinya. Namun setidaknya anak mengetahui bahwa tindakannya yang kasar atau menyakiti orang lain merupakan cara penyelesaian masalah yang salah.

Kedua, ajar anak mengungkapkan perasaannya. Perilaku memukul seringkali terjadi karena anak tidak dapat mengungkapkan perasaan atau emosinya ke arah yang baik dengan cara pengungkapkan verbal maupun nonverbal. Sebaiknya orangtua mengajarkan anak supaya berani mengungkapkan perasaannya pada orang lain sehingga dia juga belajar cara penyelesaian masalah yang positif. Misalnya, “Kamu boleh merasa kecewa dan marah pada temanmu tetapi bukan berarti kamu boleh memukulnya, karena pukulanmu menyakiti orang lain.”

Ketiga, ajarkan anak menemukan cara penyelesaian masalah yang lain. Misalnya mengajarkan berkata “Tidak”, “Jangan”, “Hentikan”, “Pergilah” sebagai pengganti tindakan memukul. Dengan belajar mengucapkan kata-kata tersebut, anak bisa menerapkannya, contoh saat temannya mau mengambil mainannya, anak dapat berkata “Stop, ini milik saya!” Atau ketika temannya menganggu, anak berkata “Jangan ganggu saya!”

Keempat, beri penguatan pada perilaku yang baik. Seringkali anak menunjukkan perilaku yang desktruktif untuk mendapatkan perhatian dari lingkungan. Ketika anak menunjukkan perilaku memukul, lingkungan menunjukkan reaksi namun saat memperlihatkan perilaku yang baik, si anak tidak mendapatkan perhatian. Oleh karenanya, saat anak menunjukkan perilaku yang baik, sebaiknya mendapat penguatan. Sehingga anak tahu bahwa perilaku yang diperhatikan adalah perilaku yang baik bukan perilaku yang bersifat destruktif.

Terakhir, minimalkan pengaruh lingkungan yang kurang baik, seperti pengaruh media yaitu film, tayangan sinetron, game playstation, dan lain-lain.  DB

Mengapa Anak Agresif? 

Ada setumpuk alasan mengapa balita cenderung agresif:

  • dorongan untuk mandiri dan memiliki identitas diri
  • frustrasi
  • egosentrisitas
  • kurang dapat mengendalikan impuls
  • ketidakmampuan memperkirakan akibat-akibat dari tindakannya
  • kurangnya kemampuan sosial
  • kurangnya kecakapan verbal
  • tertarik untuk mengetahui sebab-akibat.

Memerangi Agresi

  • Terapkan aturan
  • Hindari tangan besi
  • Hindari praktek-praktek pendisiplinan yang ekstrim
  • Perhatikan perilaku yang baik
  • Akui perasaan anak
  • Dorong untuk mengungkapkan perasaan menjadi kata-kata
  • Beri kesempatan untuk menumpahkan perasaannya
  • Kenali kapan saja anak cenderung ‘bete’
  • Sapu habis kebosanan anak
  • Minimalisasi frustrasi
  • Alihkan dengan kegiatan yang menenangkan
  • Tunjukkan teladan nonagresif
  • Ketahui kapan Anda perlu ikut campur
  • Dan kapan harus menjauh atau cukup mengawasi saja
  • Jangan memihak dan menghakimi
  • Anda sendiri jangan memamerkan kebencian dan kekerasan
  • Tak perlu memberi ‘kuliah’
  • Ubah suasana dengan beralih ke kegiatan yang dipandu orangtua
  • Selalu awasi kegiatan anak-anak.

Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist.

Untuk konsultasi, hubungi di 0878-8170-5466 atau pin 2849C490.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s