Anak Bahagia, Anak yang Tak Dikejar-kejar Kesempurnaan

Anak Lebih Bahagia Jika Sadar Tidak Ada Orang Sempurna

Di dalam mata anak-anak, orangtuanya adalah manusia paling tahu segala hal, bisa melakukan apapun dan selalu benar. Ringkasnya, mereka sempurna. Padahal kita tahu, persepsi mereka keliru. Tidak seorang pun yang sempurna.

Dan anak-anak musti mempelajari hal ini sejak dini – antara lain karena ini adalah bagian dari kecerdasan emosionalnya. Mengapa? Karena anak-anak yang tahu bahwa orangtuanya, kakek-neneknya, gurunya – dan semua orang – pernah dan selalu bisa membuat kesalahan, maka mereka akan lebih bebas bertumbuh kembang dengan mencoba segala sesuatu tanpa takut keliru. Mereka bisa dengan tenang ‘bereksperimen’, mencoba-coba dengan menghitung segala risiko, tanpa takut gagal. Untuk membantu anak-anak memiliki salah satu kecakapan dalam kecerdasan emosional ini, ada lima tips yang bisa Anda lakukan.

Jangan menuntut kesempurnaan dari anak-anak. Mengharapkan lebih dari anak-anak bisa merusak kepercayaan dirinya, selain menjatuhkan semangatnya. Harapan-harapan orangtua tentang perilaku, penguasaan kecakapan, dan pemahaman, bukan hanya harus sesuai dengan umur mereka, tetapi juga musti disesuaikan dengan kemampuan dan temperamen anak.

Akan tetapi, ini bukan berarti Anda hanya bisa menetapkan standar yang rendah atau malah tidak membikin standar sama sekali. Anak-anak yang tidak diharapkan memenuhi standar apa pun biasanya malah tidak bisa belajar disiplin, tidak sanggup memenuhi tantangan dan tidak berani mengambil risiko. Pada akhirnya, mereka menjadi anak-anak yang kurang berprestasi (under achiever).

Jangan menuntut kesempurnaan dari orang-orang lain. Terimalah ketidaksempurnaan orang-orang di sekitar Anda. Baik yang sudah lama tertanam di dalam diri pasangan Anda, seperti kebiasaannya tidak menutup kembali penutup toilet atau pasta gigi yang dibiarkan menggeletak di wastafel. Begitu pula dengan kekurangan-kekurangan yang ada pada diri rekan-rekan kerja Anda, orang-orang di kantor pos, di bank, atau di supermarket.

Bukan berarti Anda selamanya menerima begitu saja kekasaran pegawai kelurahan, ketidakmampuan manajer Anda, atau kealpaan dan keteledoran karyawan Anda sebagai hal yang tidak bisa diubah. Tetapi lebih pada bagaimana Anda melatih kesabaran dan toleransi, dengan mengakui dn menyadari bahwa bahkan orang-orang terbaik sekali pun bisa terpeleset dan sesekali mengalami “hari naas.”

Jangan sembunyikan kesalahan-kesalahan Anda dari anak-anak. Sangatlah penting bagi anak-anak untuk melihat orangtuanya sebagai manusia biasa, bukan superman. Dalam bahasa Serieues, “Orangtua Juga Manusia.” Dan lebih penting lagi, bahwa orangtuanya mau mengakui kalau diri mereka juga bisa keliru.

Jadi, ketika Anda kehilangan kesabaran atau lupa membeli buah kesukaan anak, atau lupa menyetelkan film seri favorit anak, akui kesalahan Anda. Dan meminta maaflah kepada anak-anak.

Jangan menuntut kesempurnaan dari diri sendiri. Tidak ada orangtua sempurna. Maafkan diri Anda sendiri apabila Anda gagal memenuhi standar yang Anda tetapkan sendiri. Sekali lagi, ingat lagunya Serieues, Anda manusia biasa. Semua orangtua pernah berbuat kesalahan, sesekali. Yang lebih penting adalah, kita mengakui kesalahan tersebut, memahami kesalahan itu, mempelajarinya, dan mendapatkan solusi yang lebih baik dalam kesempatan lain pada masa mendatang.

Maafkan kesalahan-kesalahan anak-anak sepenuhnya, seluruhnya dan setulusnya. Sediakan penyertaan dan penerimaan sepenuhnya untuk anak-anak Anda. Jangan pernah menarik atau menunda kasih sayang Anda (bahkan walau hanya pura-pura) hanya karena anak-anak berbuat kesalahan atau tidak berhasil melakukan sesuatu atau alasan lainnya.

Tentu saja, karena kita memang tidak sempurna, kita tidak akan pernah bisa selalu mampu bereaksi sempurna ketika anak-anak melakukan ketidaksempurnaan. Sesekali, kehilangan kesabaran karena anak berbuat merusak, merupakan hal yang wajar. Hanya saja, pastikan kalau anak-anak tahu bahwa cinta kasih Anda tidak pernah meruap, walau Anda sedang marah.

Anda mungkin khawatir, jika membiarkan anak-anak mengetahui kalau Anda tidak mewajibkan kesempurnaan, maka harapan-harapan Anda sendiri akan menurun, begitu pula dengan prestasi anak-anak. Keduanya tidak akan terjadi.

Anak-anak yang merasa bebas mengambil risiko berbuat keliru, yang tidak merasa ditekan untuk sempurna, pada kenyataannya akan berprestasi lebih tinggi, daripada anak-anak yang selalu merasa cemas karena diharuskan berbuat sempurna. Anak-anak yang merasa bebas mengambil risiko juga akan lebih percaya diri, merasa lebih baik dan tenang, dan tidak akan menjadi anak peragu. Mereka juga kurang mungkin mengalami depresi maupun penyalahgunaan obat terlarang.

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s