Anak Pemalu vs Pendiam

Ajarkan Si Kecil Jadi Pemberani!

Apa Beda Anak Pemalu dan Pendiam?

Di lokasi Taman Kanak-Kanak (TK), seorang guru bertanya, “Ayo, siapa yang mau bernyanyi, maju ke depan kelas.” Lalu seorang anak perempuan tunjuk jari sambil berucap lantang, “Saya Bu Guru!” Sementara, di sebuah ruangan kelas VI SD, ketika guru menawarkan “Ada yang mau bertanya?” beberapa menit berlalu tanpa ada satu pun jari yang teracung tinggi. Dari situasi sekolah itu tergambar bahwa diperlukan “keberanian” untuk tampil di hadapan kelas. Bagaimana cara membangun keberanian itu?

Kemampuan untuk berani tampil di depan umum tidak diperoleh begitu saja, melainkan harus diasah sejak kecil. Rasanya sia-sia saja bila anak kita meraih ranking di sekolah, namun ia tidak memiliki keberanian untuk menonjolkan kemampuannya.

Anakku Pemalu atau Pendiam?

Melihat anak-anak lain beraksi di atas panggung, bernyanyi, menari, membacakan puisi, apa yang Anda pikirkan? Sebagai orang tua, tentu terselip keinginan agar buah hati kita pun mampu melakukan hal yang sama. Namun, bagaimana bila ia beralasan, “Aku malu, Ma.”

Perilaku pemalu biasanya tampak pada saat anak berusia 7-9 bulan dan kembali ketika usia anak 2 tahun. Hal ini merupakan tanda perkembangan normal bahwa pada bulan-bulan tersebut, ia sudah mampu mengenali orang-orang yang biasa berada di dekatnya dan orang-orang yang belum dikenalnya. Sedangkan pada usia 2 tahun ia mulai belajar akan konsep ‘perpisahan’ dengan sang ibu. Ia belajar untuk tahu bahwa kalau ibunya pergi ke belakang bukan berarti ia tidak akan bertemu kembali dengan sang ibu.

Apa perbedaan antara anak yang pemalu dan pendiam? Anak yang pemalu terkadang menunjukkan perilaku yang bisa berbeda. Misalnya di sekolah ia tidak banyak mengikuti aktivitas yang diadakan tetapi di rumah bisa saja ia menunjukkan perilaku yang sangat berbeda karena ia mengenal semua orang yang ada di rumahnya. Sedangkan anak yang karakternya lebih pendiam biasanya tampil lebih merata di berbagai situasi, dan bukan berarti anak tersebut bermasalah karena itulah variasinya manusia.

Anak yang pendiam belum tentu pemalu. Anak yang pemalu biasanya menghindari kontak atau interaksi dengan lingkungan barunya. Mereka tampak enggan untuk menjadi perhatian publik. Dalam lingkungan pergaulan, biasanya mereka kurang memiliki inisiatif untuk ikut dalam sebuah permainan, jarang bicara atau sekalipun bicara biasanya menggunakan intonasi suara yang cenderung pelan, serta menghindari kontak mata jika diajak bicara.

Label Pemalu dari Orangtua

Seringkali orangtua tidak menyadari faktor penyebab anaknya menjadi pemalu justru timbul dari sikap orangtua sendiri. Misalnya, ketika berkumpul bersama anggota keluarga besar atau di depan orang dewasa lain, orang tua berkata di hadapan anaknya, “Aduh, anakku si A ini memang pemalu banget.” Label pemalu akan melekat pada diri si anak. Yang tertanam dalam pikirannya, ia memang seperti itu.

Kritik negatif turut andil dalam pembentukan perilaku anak, akibatnya mereka lebih menarik diri. Contohnya, dalam keseharian orangtua berkata, “Gimana sih kamu, bukan gitu caranya, sini Mama ajarin!”

Termasuk kalimat-kalimat negatif yang kerap dilontarkan, seperti, “Kamu nakal,” “Kamu bodoh,” “Kamu bandel,” dan sebagainya. Semua ini sangat mempengaruhi perilaku anak.

Bahkan berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan di Amerika Serikat, setiap hari anak mendapat perkataan negatif sebanyak 750 kata. Sebaliknya, mereka hanya memperoleh kata positif sebanyak 65 kata perhari. Menurut penelitian tersebut, kata negatif yang diperoleh anak tidak hanya diberikan orang tuanya, tetapi dari lingkungan lainnya seperti nenek, teman, saudara, termasuk gurunya.

Menurut Guyer, ahli psikologi dari Institut Kesehatan Nasional di Bethesda Maryland, Amerika Serikat, seorang anak yang sangat pemalu mengalami sensitivitas lebih pada berbagai tipe stimulasi, misalnya rasa takut ataupun penghargaan.

Kemudian Brian Knutson, psikolog Universitas Stanford di Palo Alto, California, menyatakan bahwa anak pemalu menghadapi banyak masalah kejiwaan di kehidupan mereka selanjutnya. Sebab, mereka lebih sensitif saat mengalami suasana kemenangan ataupun kekalahan. Hal ini menempatkan mereka pada pengalaman suasana emosi yang lebih kuat dibandingkan dengan orang lain.

Sikap over protektif orangtua termasuk faktor penyebab lain. Karena terlalu banyak larangan, anak merasa kurang nyaman untuk mengekspresikan dirinya.

Secara umum, pada periode usia 1-5 tahun, anak-anak mulai melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya. Sebagai contoh, anak berusaha meraih bola yang ada di hadapannya, kemudian dilempar. Dari kegiatan tersebut, anak belajar bahwa bola yang dilempar akan menghasilkan bunyi dan gerakan tertentu. Pada periode ini, lingkungan mulai sering mengatakan “jangan” atau memperlihatkan reaksi yang berlebihan. Padahal tindakan ini malah menghambat anak untuk lebih berani mengeksplorasi lingkungan.

 

Tumbuhkan Rasa Percaya Diri

Sebelum mengajarkan anak untuk memiliki keberanian, tentunya diawali dengan menumbuhkan rasa percaya diri anak terlebih dahulu. Oleh karena itu, lingkungan sebaiknya dapat memberikan dorongan sekaligus reward ketika anak belajar mengeksplorasi lingkungannya. Yani mencontohkan, saat anak mengambil sendok dan mengetuk-ngetukkan sendoknya ke piring makan, katakan “Wah bunyi yah… coba sekali lagi… wah bunyi… Adek pintar yah,” dengan diiringi ekspresi wajah yang senang atau dengan tepuk tangan.

Reward verbal maupun nonverbal merupakan langkah awal untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.

Jika rasa percaya diri sudah tumbuh dalam diri anak, secara tidak langsung orangtua akan lebih mudah mengasah keberanian anaknya.

Untuk menanamkan keberanian dapat dimulai dengan berbagai cara. Pertama, ajak anak mencoba hal-hal atau pengalaman baru, bisa saja dengan mencoba makanan baru, permainan baru yang sifatnya menantang sekaligus menyenangkan (indoor maupun outdoor), atau dengan melakukan eksperimen sederhana di rumah.

Kedua, membiasakan anak untuk menceritakan dan menampilkan kegiatan yang diajarkan di sekolah. Misalnya, ketika anak diajarkan lagu baru oleh ibu guru, minta anak untuk menyanyikan lagu tersebut di depan ayah dan ibu. Berikan pujian karena anak mau memperlihatkan kemampuannya.

Ketiga, setelah anak merasa cukup percaya diri untuk menampilkan kemampuannya di lingkungan keluarga kecil, perlahan-lahan latih anak untuk bisa menampilkan kemampuannya di depan keluarga besar. Misalnya bernyanyi atau menari saat acara ulang tahun.

 

Berani Dalam Segala Situasi

Setiap orangtua tentu tak mengharapkan anaknya menjadi ‘jago kandang’ alias hanya berani tampil di rumah saja. Begitu tampil di sekolah maupun di hadapan umum, nyalinya langsung ciut. Lalu, langkah apa yang sebaiknya dilakukan orang tua atau guru di sekolah?

Sejak dini biasakan anak untuk bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Ketika anak sudah bisa menyebutkan namanya, ajarkan anak untuk memperkenalkan diri dengan bersalaman dan menyebutkan namanya. Orangtua juga dapat berperan sebagai role model atau memberikan contoh, ketika anak pertama kali belajar berinteraksi dengan orang baru.

Guru yang baik adalah guru yang dapat mengakomodasi berbagai tipe anak, baik dari segi daya tangkap, emosi maupun dari sisi kepribadiannya.

Di Indonesia, budaya untuk rajin bertanya di kelas termasuk jarang dilaksanakan. Bila ada anak yang bertanya, maka teman-temannya malah menyoraki, menganggapnya cari perhatian terhadap guru, atau di-cap sok pintar. Kenyataannya, dalam proses belajar mengajar, jika materi pelajaran belum sepenuhnya dimengerti oleh si anak. Ia lebih memilih untuk diam atau bertanya pada temannya. Padahal akan jauh lebih baik bila mereka berani bertanya kepada gurunya secara langsung. Oleh karena itu, Yani menyarankan agar guru dapat memberikan kesempatan yang sama bagi setiap murid untuk belajar, serta memberikan motivasi bagi mereka yang kurang percaya diri, pemalu, atau cenderung pasif di dalam kelas.

Sekolah adalah tempat anak-anak belajar akan segala hal. Selain menimba ilmu pengetahuan, mereka juga harus belajar bersosialisasi, belajar menghargai orang lain, belajar bersaing secara sehat dan sebagainya.

Keberanian, percaya diri dan pandai bergaul, menjadi bekal si kecil untuk terjun di masyarakat. DB

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist  

Satu pemikiran pada “Anak Pemalu vs Pendiam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s