Bayi Rentan Alergi Karena Susu Formula

Bayi Rentan Alergi Karena Susu Formula

Bayi yang diberi susu formula sebelum usianya 6 bulan cenderung rentan terhadap reaksi alergi dibandingkan bayi yang hanya diberikan ASI. Lalu apa yang bisa kita lakukan jika bayi alergi?

Bayi alergi disebabkan karena sistem pencernaan bayi berusia 0-6 bulan belum bekerja sempurna, sehingga bayi tidak dapat mencerna protein dalam susu formula dan akan menyerapnya secara utuh. Jika sistem pencernaannya sudah sempurna, protein dalam makanan akan dicerna dengan bantuan enzim. Karena itulah, WHO selalu menyarankan upaya pemberian ASI pada bayi usia 0-6 bulan, tanpa makanan tambahan maupun susu formula.

Sekitar 50-80 persen alergi disebabkan oleh faktor genetik atau keturunan. Selain itu, pencetus alergi dapat berupa menurunnya daya tahan tubuh maupun pemberian makanan tertentu (mengandung alergen) yang terlalu dini pada bayi. Contoh makanan yang bersifat alergen yaitu ikan, telur, kacang, sea food, susu sapi, dan coklat.

Bila salah satu orangtua menderita alergi, maka 50 persen kemungkinan anaknya juga akan menderita alergi. Apalagi jika kedua orangtua menderita alergi, maka kemungkinannya akan semakin besar lagi. Gejala alergi yang disebabkan oleh faktor keturunan biasanya tidak langsung terlihat dan akan tampak jika si anak sudah berusia 5-10 tahun.

Pencegahan

Sebenarnya reaksi alergi bisa dicegah sejak dini. Salah satunya adalah dengan pemberian ASI selama 6 bulan. Namun, jika si ibu tidak dapat memberikan ASI eksklusif, maka bayi bisa diberikan susu formula khusus untuk mencegah alergi.

Susu formula pencegah alergi merupakan susu formula yang telah melalui proses hidrolisis parsial, yaitu susu tersebut sudah diproses namun masih disisakan yang aslinya agar tubuh bisa mengenalinya dan akhirnya tubuh si bayi tidak kaget jika suatu saat mengonsumsi susu itu lagi.

Namun, jika kondisi alergi sudah timbul, maka si bayi bisa diberikan susu kedelai maupun susu yang telah melalui proses hidrolisis sempurna, yaitu susu tersebut sudah diproses dan tidak mengandung alergen lagi.

Gejala alergi

Reaksi alergi biasanya berupa diare, muntah, dan serangan asma. Hentikan langsung pemberian susu atau makanan tertentu yang menyebabkan reaksi itu muncul, dan makanan tersebut bisa diberikan kembali setelah 6 bulan kemudian. Pemberian makanan pencetus alergi sebaiknya diberikan jika usia si bayi sudah 1 tahun.

Alergi yang bersifat berat akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Namun, hingga kini belum diketahui bagaimana cara menyembuhkan alergi secara total. Gangguan tersebut diduga akan hilang seiring dengan pertumbuhan si kecil. Agar gejala alergi tidak muncul kembali, sebaiknya hindari si kecil dari makanan yang mengandung alergen dan selalu konsultasikan kondisinya kepada dokter yang tepat.

Pemberian Makanan Semipadat

Dalam memberikan makanan semipadat sebagai pendamping atau pelengkap ASI/susu formula, perhatikan mutu bahan makanan yang terkandung di dalamnya. Bahan makanan yang bermutu tinggi akan menjamin kualitas zat gizi yang baik pula.

Sesuaikan jumlah dan jenis makanan dengan kebutuhan fisik dan kemampuan pencernaan si kecil. Semakin bertambah usianya, maka kebutuhannya akan zat gizi pun akan semakin meningkat pula.

Lakukan pemberian makanan semipadat ini secara bertahap. Mulanya, mulailah dengan jumlah sedikit dan dalam bentuk encer, kemudian makin lama makin banyak dan dibuat lebih kental. Sebaiknya ibu tidak memperkenalkan beberapa makanan sekaligus pada si kecil dalam waktu bersamaan. Setidaknya tunggulah empat hari, barulah ibu boleh memperkenalkan jenis makanan yang lain. Hal ini perlu, agar si kecil dapat menyesuaikan diri sekaligus memberinya kesempatan untuk benar-benar mengenal dan dapat menerima jenis makanan baru. Dengan cara ini ibu pun dapat mendeteksi ada tidaknya reaksi alergi si kecil pada jenis makanan tertentu.

Saat pertama kali memperkenalkan makan semi padat di kecil, jangan sekali-sekali memaksanya, karena hal ini dapat mempengaruhi perkembangan emosionalnya. Bersabarlah, dan biarkan si kecil mengembangkan rasa suka dan tidak sukanya sendiri. Agar ia tidak terlalu merasa asing dengan makanan barunya, mungkin Ibu juga dapat mencampur makanan tersebut dengan susu atau sari buah yang sudah dikenalnya.

Mulailah memberikan makanan semi padat secara bertahap, mulai dari buah-buahan, tepung-tepungan, lalu sayuran. Jenis makanan seperti daging, ikan dan telur biasanya diberikan pada si kecil bila ia telah berusia 6 bulan, itupun masih harus dilunakkan.

Bila si kecil susah makan

Adakalanya si kecil menolak makanan semi padatnya. Jangan buru-buru menganggapnya tidak menyukai makanan yang ibu berikan, karena bisa saja si kecil masih merasa asing dengan makanan barunya atau sistem pencernaannya belum terbiasa menerima makanan lain selain susu.

Ragam Alergi pada Bayi

Sistem kekebalan tubuh si kecil yang belum sempurna seringkali menyebabkan ia mengalami alergi terhadap beberapa jenis makanan tertentu, seperti:

Susu sapi

Penyebabnya, karena protein yang terdapat pada susu sapi dan produk olahannya mengandung beta lakto globulin, yang dapat menimbulkan alergi.

Gejalanya: diare, muntah, sakit perut, eksim ataupun ruam kulit.

Kacang-kacangan

Sebenarnya alergi karena kacang-kacangan jarang terjadi. Alergi hanya terjadi akibat jenis kacang tertentu, seperti kacang tanah, yang sering disebut-sebut sebagai salah satu pemicu alergi berat yang dikenal dengan nama anaphylatic shock.

Gejalanya: pembengkakan tenggorokan yang akan menyebabkan kesulitan bernafas.

Intoleransi laktosa

Intoleransi laktosa adalah ketidakmampuan sistem pencernaan tubuh untuk mencerna laktosa karena kurangnya enzim pencernaan yang disebut laktase dalam usus. Hal ini biasanya oleh bakteri atau virus yang merusak mukosa (selaput lendir) usus, sehingga tidak bisa memproduksi laktase. Biasanya terdapat pada susu.

Gejalanya: diare

Intoleransi gluten

Intoleransi gluten adalah kondisi alergi yang mirip seperti intoleransi laktosa, bahkan terkadang dapat terjadi secara bersamaan. Biasanya terdapat jenis makanan seperti gandum, barley, havermut, dan produk olahannya.

Gejalanya: kembung, mual, diare dan kram.

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s