Cerewet, Cerewet, dan Cerewet

Cerewet, Cerewet, dan Cerewet

Teknik apa yang paling banyak dilakukan orangtua untuk membuat remajanya mau melakukan sesuatu? Cerewet! Mengapa? Mereka percaya bahwa permintaan terus menerus, tuntutan, mengingatkan lagi dan lagi, dan serangkain ancaman untuk menjatuhkan konsekuensi negatif akan membuat anaknya mau melakukan apa yang mereka inginkan: memathui aturan atau mencegah tindakan buruk. Nah, yang gagal disadari kebanyakan orangtua adalah bahkan jika kecerewetan ini berhasil, biasanya meninggalkan perasaan negatif di dalam hati kedua belah pihak.

Oleh karena itu, kita musti memahami bahwa kecerewetan mempengaruhi semua pihak. Salah satu contohnya, kita menyereweti anak kita dengan mengatakan kalau ia tidak mampu atau tidak bertanggung jawab melakukan apa yang kita minta jika tidak diingatkan. Boleh jadi itu memang benar. Tetapi apa yang terjadi kemudian adalah anak-anak mulai memercayai perkataan kita. Ia pun merasa sebagai orang yang tak bertanggung jawab dan ekspektasinya pun seperti itu. Ia mulai percaya bahwa ia tidak bisa melakukannya alih-alih ia tidak mau melakukannya.

Kecerewetan juga terdengar seperti sebuah tuntutan daripada permintaan yang wajar dan masuk akal. Tuntutan dianggap tidak adil dan tidak penuh pertimbangan karena tidak memedulikan perasaan orang yang dituntut. Tuntutan juga sangat tidak menghargai anak. Kita seperti memberi pangkat – kita jenderal dan mereka prajurit: anak-anak merasa tidak berdaya dan lebih rendah. Bayangkan kalau atasan Anda di kantor menuntut Anda alih-alih meminta sesuatu. Karenanya, kita musti memahami perasaan-perasaan negatif yang kita timbulkan pada diri anak. Wajar kalau ia memberontak.

Akhirnya, kecerewetan bisa memberi rasa berkuasa yang keliru pada diri remaja kita. Ia belajar kalau ia bisa membuat Anda jengkel dan marah serta memperkuat kecerewetan Anda sampai pada titik dimana Anda terpaksa berdamai atau diam saja. Semakin lama ia menunggu atau menunda-nunda, Anda semakin merasa tak berdaya dan jengkel karena kata-kata Anda tampak tidak berpengaruh pada anak Anda. Anda bereaksi dengan semakin cerewet, yang mendorongnya untuk menunggu lebih lama lagi, dan lingkaran setan ini berputar terus.

Kalau Tidak Cerewet, Lalu Bagaimana?

Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan yang akan bermanfaat bagi semua pihak. Pertama-tama adalah membuat kesepakatan tentang apa saja yang perlu dilakukan dan kapan melaksanakannya. Pastikan pula bahwa segala konsekuensinya dikomunikasikan dengan jelas (persepsi Anda dan dirinya sama) namun lembut. Dan bersiaplah untuk melaksanakan konsekuensi itu jika kesepakatan tak terpenuhi (yang besar kemungkinan terjadi, pada awalnya). Ini karena banyak anak terlalu gampang menyetujui kesepakatan hanya sebagai cara menunda apa yang harus dilakukannya.

Mereka juga gampang defensif atau marah bahkan kalau Anda sekadar membuat permintaan sederhana. Jangan membalas sikap negatifnya. Sebaliknya, ajak ia mendiskusikan keberatan-keberatannya sehingga kesepakatan tercapai. Begitu kesepakatan tertetapkan, tahan segala godaan untuk mengingatkan, meminta kembali atau menuntut.

Ini sangat sulit bagi sebagian orangtua karena mereka khawatir apa yang bakal terjadi kalau anaknya tidak memenuhi kesepakatan. Ini bisa berupa pelanggaran kecil seperti piring-piring yang menumpuk di tempat cucian, sampai terlambat memasukkan formulir pendaftaran perguruan tinggi, atau lupa minum obat.

Rasa takut atau frustrasi ini bisa begitu kuat sehingga orangtua tak tahan lagi untuk menahan diri, entah dengan kembali cerewet atau terpaksa melakukannya sendiri. Boleh jadi inilah hal terburuk yang bisa Anda lakukan karena makin memperkuat perilaku tak bertanggung jawab dan mengajarkan kepadanya bahwa ia bisa lepas dari tanggung jawab cukup dengan menunggu lama dan menunda-nunda. Karena itu, bersabarlah dan tunjukkan bahwa Anda percaya kepadanya bahkan dengan risiko tak terpenuhinya kesepakatan. Pada akhirnya Anda akan terkejut betapa kesabaran Anda membuahkan hasil luar biasa. DB

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D

Untuk konsultansi, pemetaan bakat, intelijensi dan kepribadian, serta permintaan untuk seminar-workshop, hubungi Intan di 0813-1641-0088.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s