HABIBIE DAN AUDREY

Habibie dan Audrey

Motivasi Intrinsik vs Ekstrinsik

Apa sih motivasi itu? Itu semacam semangat yang menggerakkan seorang anak untuk mencapai sesuatu. Misalnya, Audrey sedang lapar, maka dia akan pergi ke dapur dan membikin sandwich sendiri. Itu artinya Audrey memiliki “motivasi intrinsik” yang cukup besar. Sementara anak lainnya, mungkin juga pergi ke dapur, tetapi hanya menyomot selapis roti tawar, menengok sebentar botol selai, tetapi memutuskan untuk memakan roti tawar itu saja. Namun ada juga anak lain, sebut saja Febby, yang memilih untuk tetap menonton televisi, walau perutnya sudah kelaparan, karena di rumah tidak ada ibu, ayah atau pembantu yang bisa disuruhnya untuk membuatkan makanan baginya.

Sore hari, ibunya sudah kembali ke rumah. Usai mandi, sesungguhnya Febby tahu kalau waktunya belajar. Tapi ia memilih untuk menonton TV lagi. Akhirnya ibunya meneriakinya agar belajar. Tanpa perlu diulang perintah itu, Febby mematikan televisi dan beranjak ke meja belajarnya. Ia mengambil setumpuk buku pelajaran dan membacanya. Ia bersedia belajar karena disuruh, karena diperintah. Artinya, Febby memiliki “motivasi ekstrinsik” yang cukup besar.

Di rumah lainnya, seusai mandi sore, tanpa diperintah ibunya, Audrey langsung masuk ke kamarnya dan mengambil buku pelajaran Biologi. “Aku mau jadi psikolog seperti yang di film seri Mentalist,” ia membatin. Dan dari buku tentang profesi yang pernah dibacanya, seorang psikolog ternyata harus pintar Biologi juga agar memahami otak manusia. Setelah setengah jam belajar, ibunya masuk ke kamar dan mendapatinya masih belajar Biologi. “Audrey, ayo belajar yang lain. Kalau mau lulus, kamu juga harus belajar Fisika,” nasehat Ibunya. Ia pun meraih buku pelajaran Fisika, meski di hatinya tidak ada gejolak suka cita seperti yang ia rasakan saat belajar Biologi. Ya, “motivasi intrinsik” Audrey sangat besar, dan motivasi ekstrinsik-nya tak terlalu besar.

Dengan motivasi intrinsik itu, Audrey jadi punya banyak inisiatif  untuk memperkuat kelebihannya, meningkatkan pengetahuannya, mengasah ketrampilannya, menajamkan kecakapannya. Karena itu, ia menabung SENDIRI untuk bisa membeli ensiklopedi biologi, membeli DVD serial Mentalist, bahkan buku-buku psikologi walau hanya yang terjemahan Indonesia. Sebaliknya, Febby memang rajin belajar, tetapi hanya buku-buku yang disodorkan oleh gurunya di sekolah.

Kedua jenis motivasi, intrinsik maupun ekstrinsik perlu sama-sama ada di dalam jiwa seorang anak. Persoalannya, mana yang lebih besar? Tanpa kita sadari, kebanyakan orangtua ingin anaknya menuruti segala aturan, norma, bahkan kehendak kita, karena menurut kita itulah yang terbaik. Segala macam perintah dan larangan pun bagai air bah yang menerpa anak-anak. Berdasarkan observasi ilmiah, dalam satu hari (kecuali saat tidur), kebanyakan orangtua mengeluarkan sekitar 750 perintah dan larangan!!! Ada empat kata favorit orangtua: “Jangan…!”, “Tidak!”, “Awas ya, kalau kamu…!” dan “Kamu harus…!” Keempatnya adalah kata yang kita ucapkan dengan tanda seru, bukan?

Keempat kata itu memang efektif dalam menumbuhkan motivasi. Motivasi apa? Ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik memang akan membuat anak-anak berbuat atau melakukan sesuatu, tetapi…sepanjang Anda memerintahkannya, melarangnya, mewajibkannya atau menolaknya. Artinya, jika Anda tidak melarang, mengharuskan, menolak atau memerintahkannya, maka ia tidak akan bergerak, tidak akan melakukannya, tidak akan mengerjakannya.

Hidup dalam Suka Cita

Seandainya saja kita bisa melongok ke dalam hati anak-anak, kita akan tahu apa yang sesungguhnya bergejolak di alam bawah sadarnya. Suatu hari, saya bertemu dengan seorang Ayah yang kebetulan adalah seseorang yang oleh media dan masyarakat disebut sebagai seorang “motivator.” Orang yang pekerjaannya adalah menumbuhkan motivasi orang lain. Bapak ini dengan bangga mengatakan kepada Saya, “Ketiga anak saya kini tak perlu lagi diperintah untuk melakukan sesuatu. Mereka sudah tahu apa yang baik dan benar. Saya tak pernah menyuruh mereka. Saya orang yang terbuka. Saya hanya menjelaskan pilihan-pilihan yang bisa mereka ambil dan segala konsekuensinya. Saya tak pernah memaksa…”

“Bapak seperti memberikan mereka soal multiple choice, bukan?” sergah saya.

“Ya…” ia terpaksa mengiyakan dengan wajah muram.

“Jadi, bukan soal terbuka yang musti dijawab dengan essay, lengkap dengan tujuan dan alasan-alasannya?” desak saya lagi.

Kali ini ia tidak menjawab, namun wajahnya bukan hanya muram, tetapi marah. Marah sebagai bentuk penyangkalan. Namun, saya yakin, setelah marah karena menyangkal, seseorang akan memberi waktu bagi dirinya sendiri untuk memikirkan semuanya dan akhirnya bisa memilih untuk melanjutkan “kebiasaan” lamanya atau berpindah ke pola asuh dan pola didik baru.

Sesungguhnya, Bapak itu dan ribuan bahkan jutan orangtua lainnya sama sekali tidak keliru. Mereka betul. Anak-anak itu pada akhirnya akan menjadi penurut, secara umum baik dan berprestasi, karena sudah terbentuk “habit” di dalam diri mereka. Ya, SEKADAR kebiasaan. Terbiasa atau rutin belajar. Terbiasa masuk sekolah, tidak terbiasa membolos. Terbiasa mengerjakan PR. Terbiasa menolong orang lain. Terbiasa rajin. Terbiasa memakai helm.

Hlo, bukankah semua kebiasaan itu baik? Ya, memang tidak salah. Ya, tidak keliru. Ya, tidak meleset.

Tetapi, adakah sukacita di dalam hati anak-anak yang “terbiasa” itu? Adakah gejolak semangat di sana? Adakah “menghidupkan kehidupan” di dalam jiwanya pada saat ia masuk sekolah, mengerjakan PR, menolong orang, dan memakai helm? Adakah ia selalu ingat akan tujuan mengapa ia melakukan pekerjaan tersebut?

***

Bicara soal “sukacita,” mari saya perkenalkan dengan beberapa tokoh sukses Indonesia. Ada puluhan Menteri sejak jaman Presiden Soeharto sampai Presiden SBY. Ada beberapa milyuner. Ada ratusan pengusaha. Ada ribuan ulama dan pendeta.

Pertama, perkenalkan Dr. Ing. B.J. Habibie. Suatu hari, seorang jurnalis mencegatnya di lobby Grand Hyatt saat Presiden RI itu hendak pulang usai membuka suatu acara. Pertanyaan pertama, tentang kondisi ekonomi makro Indonesia, terus membuatnya berjalan menuju pintu keluar. Pertanyaan kedua, tentang apakah Indonesia di masa depan akan menjadi negara pelopor dalam teknologi, membuatnya menoleh, dan menjawab. Bukan hanya menjawab, ia memberikan ceramah! Matanya bersinar-sinar, wajahnya merona kemerahan, kedua tangannya bergerak ke sana-ke mari. Ia bahkan terus mendekat ke arah wartawan itu sehingga si jurnalis terpaksa mundur. Kalau tidak mundur, mereka bisa berciuman J. Namun Habibie terus menjejalkan ide-idenya sambil  terus berjalan mendekat; alhasil wartawan itu juga terus mundur sampai akhirnya tak bisa mundur lagi karena punggungnya sudah menempel dengan dinding. Tanpa mereka sadari, sepanjang wawancara itu, penggagas industri strategis itu sudah bergerak sekitar 20 meter dari posisi awal wawancara. Ya, itulah yang selalu dikenang oleh si wartawan: semangat Habibie yang berkobar-kobar seakan hendak meledakkan jiwanya. Wartawan itu takkan pernah bisa melupakan “mata kanak-kanak Habibie.”

Gus Dur lain lagi. Ia dikenal sangat tak suka diarahkan dalam wawancara. Ia sama sekali tak mau mengikuti arah pemikiran wartawan atau publik. Kalau pun mau menjawab, jawabannya sangat pendek. Seringkali hanya dua kata. Ia lebih suka menjelaskan visinya, sudut panjangnya (bukan sekadar sudut pandang J). Dan kalau ia sudah merasa (dan memang) memimpin pembicaraan, terutama tentang keberagaman (bukan keberagamaan) Indonesia, sekam yang sedari tadi berdiam di dalam jiwanya, dalam sekejap berubah menjadi lidah api yang menyala-nyala. Intonasi suaranya dan irama kata-katanya bagaikan musik. Bukan gitar tunggal, melainkan orkestra! Itulah memori suara si wartawan terhadapnya: “suara kanak-kanak Gus Dur.”

Setiawan Djody adalah jenius ketiga yang hendak saya perkenalkan. Ia memang suka bicara apa saja, dari musik sampai energi, dari wanita, fashion, budaya, ekonomi sampai politik. Ia punya pengetahuan mendalam dan detail hampir tentang semua hal. Ia selalu bisa mengalahkan pengetahuan siapa pun, bukan hanya wartawan, tetapi juga para Dirjen (yang bertahun-tahun menggeluti bidangnya. Kalau Menteri kan jabatan politik, yang seringkali memang tak punya pengetahuan teknis). Ia bahkan punya ingatan luar biasa soal angka sehingga ratusan nomor telepon bisa diingatnya di luar kepala.  Namun bukan itu yang membuat saya terkesan. Melainkan semangatnya jika sudah tiba pada topik “apa yang musti Indonesia lakukan agar dapat mengoptimalkan potensinya di dalam percaturan Internasional.” Ya, saya selalu bangga hingga terharu setiap kali ikut merasakan “semangat kanak-kanaknya.”

Sayangnya, saya tidak diberi kesempatan untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Akan tetapi saya sangat sering bertemu dengan orang-orang yang mengagumi Presiden pertama kita itu, termasuk kedua orangtua dan hampir semua kakak saya. Kalau melihat dan mendengar betapa para pengagum itu berbicara dengan kobaran semangat yang masih besar, saya hanya bisa menyimpulkan satu hal: tentulah ia memiliki semangat seperti ledakan bom nuklir sehingga bisa menularkannya kepada jutaan orang, bahkan kepada remaja masa kini yang telah melewati batas generasinya.

***

Ada banyak jutawan dan pengusaha lain yang tentu tak bisa dibilang tidak sukses. Ada beberapa Presiden dan Menteri lain; tentulah mereka juga bisa ditasbihkan sebagai orang sukses. Sejarah juga mencatat mereka. Apakah dengan tinta emas? Apakah dengan kenangan yang sangat mendalam di hati banyak orang; ataukah pudar seiring dengan pudarnya peredaran mereka di media dan kehidupan?

Sebaliknya, saya juga bertemu dengan tukang sapu di kota Herenveen (baca essay saya, “Tukang Sapu”), mbok sepuh pedagang pecel di kampung Gejayan – Yogya, nelayan lobster di Bengkulu, yang memang tak tercatat di buku sejarah, namun selalu bisa membuat orang-orang di sekitarnya “merasa ikut diberkati.” Turut merasakan semangat mereka, seakan-akan bisa melihat betapa dinamisnya suka cita mereka. Mereka juga orang-orang sukses, karena memiliki motivasi intrinsik yang jauh lebih besar daripada motivasi ekstrinsiknya.  Mereka tahu betul apa yang mereka inginkan dan berjuang keras dengan penuh kegembiraan untuk mencapainya.

Saya juga sering melihat anak-anak berlomba. Tentu saja, tidak ada anak-anak yang tidak bangga saat mereka berhasil meraih kemenangan, kecuali yang mengalami gangguan kepribadian😉 Akan tetapi, bagaimana proses yang terjadi di dalam hati mereka saat berlomba?

Apakah rasa khawatir tak menang? Apakah rasa takut mengecewakan orangtuanya? Apakah keinginan untuk mengharumkan nama besar sekolahnya? Apakah karena rasa cintanya pada bidang itu?

Saya pernah melihat seorang gadis kecil melukis dengan penuh semangat meledak-ledak, dan ia tetap bersemangat saat ketiga juri tak memandang sedetik pun lukisannya (apalagi sampai memilihnya menjadi juara).  Dan saya menangis terharu…

Audrey juga mencintai basket sehingga ia terpilih menjadi pemain guard di sekolahnya. Namun, ketika orangtuanya pindah rumah, ia terpaksa pindah sekolah. Sayang, di sekolah baru, guru olahraganya lebih suka futsal sehingga hanya ada tim futsal. Dan Audrey berkata kepada ayahnya (atau lebih tepat disebut “mengajari” ayahnya?), “Aku musti masuk tim inti futsal, Yah. Aku harus bikin pak Guru kagum pada permainanku. Kalau dia sudah kagum, aku akan pengaruhi dia agar bikin tim basket.”

Ayahnya sepakat. Namun, Bundanya lebih kagum kepada anak tetangga, si Febby. Bunda sering membandingkan, “Kamu HARUS mencontoh Febby. Ia selalu rajin belajar apa saja. Ia selalu masuk tiga besar, karena semua nilainya delapan.” Dan dengan gagah Audrey menjawab, “Tapi Febby tidak tahu setelah lulus mau jadi apa. Yang penting masuk perguruan tinggi negeri. Yang penting bisa bekerja.” Ibu yang tak tahu harus menasehati apa lagi, menoleh kepada Ayah, “Yah, nih anakmu senangnya membantah saja. TIDAK PERNAH menurut orangtua.” Ayah hanya tersenyum.

Dan Bunda makin kesal saat Audrey berkata, “Kemarin aku baca majalah F-1 yang dibeli ayah. Di situ Michael Schumacher bercerita kalau ia selalu dan terus menerus mengasah keunggulannya, yaitu jago menyalip pembalap lain di tikungan. Ia tak mau fokus pada kekurangannya, adu di trek lurus. Coba Bun, dia pedenya tiga juta. Dia yakin kalau bisa jadi jura dunia untuk ke delapan kalinya. Aku juga mau pede seperti Schummy. Bantu aku ya, Bun?” Dan Bunda terpaksa mengangguk. Sementara Ayah malah cekikikan melihat polah Bunda yang salah tingkah.

***

Motivasi intrinsik Audrey turut membangun rasa percaya dirinya. Ia sanggup menunjukkan siapa dirinya. Ia tidak takut unjuk jari, tapi juga berani untuk memilih bersedekap. Tahu kapan mengalah; tahu kapan diam, tahu kapan menyerang.

Saat ini, Febby memang lebih dikenal di sekolah, dipuji-puji guru dan tentu saja membikin bangga orangtuanya karena ia selalu ranking III tiap kali menerima rapor. Ia juga sering menang lomba. Namun ia menangis setiap kali kalah. Suasana hatinya bisa muram beberapa hari. Ia sangat menikmati zona nyamannya, dan kurang berani mencoba hal baru. Ini terlihat saat peserta pertukaran pelajar dari Selandia Baru datang ke sekolah. Febby yang nilai bahasa Inggrisnya lebih baik ternyata malah tak berani mengobrol dengan remaja berambut pirang itu; sebaliknya, Audrey terus mencoba mengajaknya mengobrol walau dengan bahasa gado-gado.

Tetapi, sekali lagi, sama sekali tidak ada salahnya jika Anda sebagai orangtua, cenderung lebih suka kepada Febby. Tetapi saya yakin, sebagian besar anak-anak akan memilih untuk menjadi Audrey.  (kecuali yang kepribadiannya sudah [terlanjur] terbentuk menjadi ‘wayang’.) Memilih untuk menjadi ‘dalang’ atau ‘sutradara’ bagi kehidupannya sendiri. DB

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D

Untuk konsultasi dan permintaan seminar, hubungi Intan di 0813-1641-0088.

CATATAN:

Anak-anak seperti Febby, dalam kehidupan spiritual pun cenderung akan menjadi ‘wayang.’ Mereka lebih mudah patuh pada norma, nilai dan undang-undang. Mereka lebih mudah patuh pada apa yang disarankan, bahkan diperintahkan oleh pendetanya, ulamanya. (terlepas apa pun saran atau perintah itu). Sementara anak-anak seperti Audrey akan lebih mudah “mematuhi” apa yang direncanakan Tuhan baginya, lebih mudah mendapatkan pencerahan sendiri. Namun, soal hubungan motivas dan spiritualitas ini akan Opa bahas dalam kesempatan lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s