Mengajarkan Etiket kepada Anak-anak

Main ‘Tamu-tamuan’ Bikin Anak Tahu Etiket

 

Anak Anda gemar bermain? Perhatikan saja, kalau si kecil sudah main bareng temannya, bisa-bisa ia lupa waktu. Ya, bermain bisa bikin anak pintar bergaul. Tapi, jangan lupa Anda sisipi pengajaran etiket pada sang buah hati! Seperti apa?

 

Rasanya etiket koq begitu asing di benak anak. Terang saja, ia baru tahu asyiknya bermain. Tapi bukan berarti si kecil tidak bisa belajar etiket. Anda tidak perlu pikir panjang lagi, segera saja ajarkan etiket dalam kesehariannya. Lewat bermain umpamanya, sebab anak sedang giat-giatnya bermain dan mulai bisa berkunjung ke rumah temannya. Tidak ada salahnya Anda sudah mengajari ia tentang etiket bertamu dan etiket bermain, niscaya anak Anda lebih dihargai dan punya banyak teman.

 

Tanamkan Etiket Sejak Dini

Acapkali anak mendapat permakluman atas apa yang dilakukannya. Nah, perlakuan itulah kerap membuat anak menganggap dirinya bebas melakukan apa saja dan tidak peduli sekitarnya. Alhasil, bila dibiarkan, bisa-bisa ia dijauhi teman-temannya.

Anak-anak bawah lima tahun (balita) belum tahu apa itu bergaul. Yang mereka tahu hanya bermain. Wajar memang, sebab mereka belum bisa mengendalikan diri. Yang kerap muncul adalah kegoisannya, seperti saat anak bermain dengan teman. Tiba-tiba saja, dia merebut atau menyerobot mainan yang dimainkan kawannya. Atau ketika bertamu di rumah tetangga, dia merengek-rengek ingin main sepeda, padahal pemilik sepedanya tidak ada di rumah. Anda bingung setiap kali menghentikannya, dia justru bertindak sebaliknya.

Anak-anak usia dua atau tiga tahun disebut anak terrible two. Semakin dilarang, anak semakin penasaran melakukan apa yang dilarang. Nah, pada usia inilah anak bisa dikenalkan etiket bertamu dan bermain.

 

Mencontoh Orangtua

Sayang bukan bila anak harus dijauhi temannya karena anak tidak ’tahu diri.’ Padahal dengan bermain anak bisa mengasah kemampuan motorik dan emosinya, termasuk pula etiket.

Sebagai awalan, orangtua bisa menjadi role model yang pertama dan utama. Anda bisa mencontohkan dari perilaku sehari-hari. Misalnya saja, si kecil membantu Anda mengambilkan pena, Anda katakan terimakasih. Meminta maaf saat Anda lupa meletakkan pensil warnanya. Mengatakan permisi ketika Anda melewati anak Anda yang tengah bermain. Bila Anda membiasakannya, Anak pun belajar bagaimana menghargai orang lain.

 

Beri Pengertian

Dalam kegiatan bermain pun, anak musti diberi pengertian. Orangtua mengajarkan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan anak. Katakan dalam bahasa yang gampang dimengerti anak.

Umpamanya berbagi mainan. Acapkali anak balita menangis atau bisa memukul temannya jika mainannya diambil temannya. Nah, orang tua bisa dengan lembut  memberitahunya, “Sayang, mainannya hanya satu. Jangan saling berebut ya. Kan Ari bisa gantian mainnya sama Anty. Atau Ari dan Anty main bareng saja yuk.”

Atau saat anak bersikeras ingin bermain bola dalam ruangan. “Coba Nak, lihat deh kira-kira bisa nggak ya kita main bola. Nanti, kalau ada barang yang pecah gimana?” Ajak anak melihat keadaan sekitarnya.

Selain itu, saat anak berada di rumah temannya, tidak lupa orangtua mengajarkan jika meminjam sesuatu minta ijin kepada pemiliknya. “Boleh nggak ya, saya pinjam mainannya?” Anak yang diberi pengertian, dia lebih bisa mengendalikan dirinya dan pandai bersosialisasi dengan temannya.

 

Sertakan Perasaan Anak

Karena anak belum bisa berfikir secara abstrak soal etiket, maka orangtua musti mengajari anak secara konkrit. Salah satunya dengan melibatkan perasaan.

Misalnya, saat melihat temannya menangis karena direbut mainannya. “Coba lihat itu si Ryan menangis. Nah, kalau adik suka merebut mainan teman. Nanti, teman kamu sedih dan nggak mau lagi main sama kamu. Lebih baik adik berbagi mainan atau bisa gantian mainnya.” Dengan mengajak anak melihat konsekuensi yang dilakukannya, mengasah si kecil memiliki jiwa yang peka akan lingkungan sekitarnya.

 

Ajak Anak Main ’Tamu-Tamuan’

Bila Anda melihat si kecil koq sepertinya belum sepenuhnya memahami etiket bertamu dan etiket bermain. Caranya mudah saja, Anda tinggal mengajak anak bermain ’Tamu-tamuan’. Ya, permainan ini membantu anak bagaimana kelak ia bersikap saat hendak bertamu dan main di rumah kawannya atau sebaliknya saat si kecil menjadi tuan rumah.

Syaratnya mudah saja, Anda cukup mengambil setting rumah Anda. Nah, Anda bisa bertukar peran dengan anak. Seperti Anda bisa menjadi tuan rumah dan anak Anda menjadi tamunya, atau sebaliknya Anda menjadi tamunya. Anda akan melihat betapa mengagumkan polah sang buah hati.

Sebagai permulaan, Anda bisa membimbing anak terlebih dahulu. Saat tiba di rumah teman, apa yang pertama dilakukan. Mengetuk pintu atau memencet bel. Setelah pintu dibuka, anak memberi salam. Berikutnya, setelah dipersilakan duduk, anak duduk manis. Jika dipersilakan mengambil makanan atau minuman yang disediakan, barulah si anak makan atau minum. Selanjutnya, anak baru bisa main setelah tuan rumah mengijinkan.

Ada baiknya, kemudian Anda bertukar peran sebagai tamu. Anda bertindak seperti yang dilakukan anak Anda. Misalnya saja, Anda tiba-tiba nyelonong ke rumah teman. Atau Anda mengambil makanan atau minuman ada di meja, tanpa menunggu ijin dari pemilik rumah. Yang lainnya lagi, Anda merebut mainan yang tengah dimainkan anak Anda. Coba lihat apa yang dilakukan anak. Apakah ia siap berbagi atau malah mempertahankan mainannya. Nah, coba tanyakan kepada anak Anda, apakah dia atau tidak terhadap tindakan Anda? Simulasi bermain peran ’tamu-tamuan’ ini bisa Anda jadikan alternatif dalam mengajarkan etiket bertamu dan etiket bermain, sekaligus mempersiapkan si kecil ketika bermain ke rumah temannya. Dan ia pun bisa menyeleksi tindakan apa yang sesuai saat berada dirumah temannya atau saat dia menjadi tuan rumahnya.

Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist, Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist. Untuk konsultasi, hubungi di 0878-8170-5466 atau pin 2849C490.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s