No! Menyubit Anak :(

Kalau Nakal Nanti Mama Cubit Lho!

Tanya: Akhir-akhir ini putriku Marlyn (2 tahun 10 bulan) mulai sering rewel. Sebelum beranjak tidur malam, dia pasti ingin ini dan itu. Minta dibacain dongeng, selesai itu minta nonton tv, minta susu dll. Permintaannya ada-ada saja. Sampai pada satu waktu kesabaran saya habis, karena Marlyn nggak mau nurut juga akhirnya saya cubit pahanya. Dia nangis sekencang-kencangnya. Semakin dia menangis semakin saya cubit lagi. Hingga akhirnya dia kelelahan menangis dan tertidur. Saya sungguh menyesal jika mengingat hal itu. Tapi kalau Marlyn mulai berulah lagi, keinginan mencubit mulai menguasai saya. Bagaimana ya agar saya dapat menguasai emosi sehingga tidak perlu mencubit Marlyn lagi dan di sisi lain Marlyn tetap patuh terhadap saya. Lalu, apakah Marlyn akan mengingat terus kejadian yang menyakitinya itu hingga dewasa kelak?  Bianca – Malang

 

Jawab: Wah, tahukah Mums bahwa cubitan itu juga termasuk salah satu bentuk dari kekerasan. Itu artinya Anda telah melakukan kekerasan terhadap anak Anda sendiri. Hukuman kekerasan semacam ini sangatlah tidak efektif dan tidak boleh dilakukan. Pun, tidak ada satu kesempatan atau batas tertentu yang membolehkan kita memberi hukuman fisik kepada anak. Karena jika Mums tetap melakukan aksi cubit mencubit pada Marlyn, efeknya bisa sampai jangka panjang, bahkan dikemudian hari bisa saja ia berperilaku sama seperti Anda.

Efek Terhadap Anak

  • Anak menurut bukan karena paham tetapi karena rasa takut dan terpaksa, sekedar menghindari hukuman belaka. Rasa takut berbuat salah akan menguasai dirinya sehingga mengurangi kemungkinan melakukan proses belajar secara maksimal.
  • Anak merasa bahwa cubitan itu sesuatu yang tak terhindarkan. Akibatnya ia jadi kebal, lalu membiarkan diri dihukum daripada melakukan tugas dengan terpaksa.
  • Membuatnya berperilaku agresif. Dalam jangka pendek, anak marah atau sakit hati. Jangka panjangnya, dendam sampai bertahun-tahun. Anak pun mencontoh tindakan kekerasan tersebut (suka mencubit juga pada anaknya kelak).
  • Bisa meninggalkan efek fisik jangka pendek, misalnya memar, dan jangka panjang, misalnya cacat.
  • Cubitan ini bisa saja dianggap anak sebagai lambang kebencian Anda kepadanya. Ke depan, ia akan memiliki pandangan negatif terhadap diri sendiri sehingga tak dapat memisahkan perilaku dan perasaan. Ia menganggap dirinya bukan anak yang baik, sehingga terus berperilaku buruk.

Cara Mengatasi Kemarahan

  1. Ingat bahwa anak bukan tempat pelampiasan kemarahan atau kejengkelan Anda.
  2. Ingat juga bahwa kemarahan Anda yang salah tempat pada anak akan berakibat fatal dalam dirinya, baik luka fisik maupun psikologi.
  3. Dalam kondisi normal ingatkan seseorang seperti suami atau pembantu rumah tangga, agar menjauhkan anak dari sasaran kemarahan Anda.
  1. Jika Anda memiliki masalah personal dengan suami, selesaikanlah urusan Anda dengan suami secara baik.
  2. Camkan di hati dan pikiran bahwa urusan suami dengan Anda, tidak ada hubungannya dengan anak.
  3. Kendalikan emosi Anda secara waras.
  4. Tarik nafas dalam-dalam kemudian alihkan kejengkelan Anda dengan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan seperti menyapu, menyusun mainan anak, merapihkan rumah, dll.
  5. Melarikan diri ke tempat yang aman seperti masjid, atau ke kamar untuk menumpahkan tangisan anda. Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s