SEMPURNA

Tuntutan Kesempurnaan Malah Bikin Anak Jadi Peragu

Apakah Anda menuntut anak-anak Anda untuk menjadi yang terbaik? Menjadi manusia sempurna? Hati-hati, karena hal itu bisa saja menjadi bumerang. Ketika anak kerap ‘dituntut’ untuk menjadi sosok yang sempurna bukan tak mungkin konsep diri anak malah terbangun negatif! 

 

Bagi mata balita Anda yang penuh kekaguman, orangtuanya pastilah mengetahui segala hal di dunia, bisa melakukan apa saja, dan selalu benar. Ringkasnya, orangtuanya sempurna.

Padahal, sebagai orang dewasa kita menyadari bahwa persepsi kesempurnaan itu ilusi belaka. Bahkan orang terbaik dan paling pintar pun punya kekurangan dan ketidaksempurnaan. Ya, tak seorang pun sempurna.

Hal ini perlu diketahui dan disadari oleh anak-anak sejak dini: bahwa orangtuanya tidak sempurna. Mengapa? Bukankah lebih baik kalau mereka tahu kalau orangtuanya memang hebat?

Tidak! Anak-anak yang dibiasakan mengetahui bahwa orangtua, kakek-nenek, paman dan orang-orang dewasa lainnya, termasuk gurunya bisa berbuat kesalahan, maka mereka bisa merasa bebas tumbuh dan berkembang. Mereka akan berani mencoba apa saja. Mereka akan berusaha keras melakukan yang terbaik. Juga akan terbiasa menghitung risiko tanpa perlu takut gagal.

Nah, untuk membantu anak-anak Anda mempelajari hal itu, lakukan 5 tip di bawah ini.

  • Jangan tuntut kesempurnaan balita Anda.
  • Jangan tuntut kesempurnaan dari semua orang.
  • Jangan sembunyikan kesalahan Anda dari mata balita Anda.
  • Jangan tuntut kesempurnaan diri Anda sendiri.
  • Maafkan kesalahan anak-anak Anda sepenuhnya dengan ikhlas.

Anda mungkin khawatir kalau membiarkan anak Anda mengetahui lima hal itu, maka akan menurunkan harapan Anda maupun prestasinya. Tidak, tidak akan seperti itu.

Anak-anak yang merasa bebas mengambil risiko untuk berbuat kesalahan, yang tidak merasa tertekan untuk harus sempurna, sesungguhnya akan berprestasi lebih tinggi. Bandingkan saja prestasinya dengan anak-anak yang selalu khawatir dan cemas karena diharuskan menjadi yang terbaik.

Lagi pula, anak-anak yang bebas mengambil risiko ini akan lebih merasa positif terhadap dirinya sendiri. Mereka merasa nyaman dengan dirinya. Ia tak akan gampang meragukan diri sendiri. Bahkan, ketika besar nanti, akan kurang mungkin terjerembab ke dalam penyalahgunaan obat terlarang. Dan kurang mungkin mengalami depresi. Intinya, ia akan menjadi orang yang lebih bahagia. DB

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s