Tantrum: Penyebab dan Cara Mengatasinya(2)

Tantrum: Penyebab dan Cara Mengatasinya 

 

Pernah menyaksikan seorang bocah yang tengah murka, mengamuk di sekolahnya? Ada satu-dua anak yang temperamental. Mungkin Anda bingung menyaksikan anak yang kecil-kecil kok mudah sekali marah.

 

Temper Tantrum

Dalam dunia psikologi hal ini dikenal dengan Tantrum atau Temper Tantrum. Yakni suatu bentuk pelepasan kemarahan yang meledak-ledak, sifatnya intensif, dan terjadi pada anak-anak.

Tantrum muncul dalam bentuk teriakan, melempar benda-benda atau memecahkannya, muntah, ataupun sampai menahan nafas mereka hingga memukul atau menendang orang dewasa.

Tantrum muncul sebagai bentuk dari rasa frustrasi yang dialami anak karena tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Untuk dapat memecahkan masalahnya, anak kemudian mengekpresikannya dalam bentuk intensitas perasaan yang kemudian muncul dalam perilaku temper tantrum.

 

Penyebab Lain

Faktor keluarga adalah penyebab lain pemicu tantrum. Maksudnya adalah anak yang hidup di dalam keluarga (orangtua, orang dewasa lainnya di dalam rumah) yang seringkali mengekspresikan perasaan dalam bentuk kemarahan tentunya akan mencontoh perilaku-perilaku tersebut.

Selanjutnya, tantrum juga disebabkan karena anak kurang mampu untuk memahami bahwa mereka frustrasi sehingga anak tidak dapat mengomunikasikan perasaan mereka dengan cara yang benar. Karenanya anak memunculkan perilaku tantrum. Anak yang selalu diharuskan oleh orang dewasa – termasuk orangtua – untuk dapat mengontrol emosinya dan tidak boleh mengekpresikan kemarahan ataupun emosi mereka cenderung untuk menampilkan kemarahan mereka dalam bentuk temper tantrum mereka.

Pada umumnya, anak usia sekolah dan pra-sekolah yang mengalami tantrum. Lantas, apakah hal ini termasuk dalam kelainan? Temper tantrum bukanlah kelainan. Anak normal bisa mengalami temper tantrum.

 

Cara Mengatasi

Semuanya kembali kepada orangtua. Jangan berharap anaknya benar kalau orangtuanya tidak benar, dalam arti orangtua harus melihat kembali perilaku mereka apakah selama ini mereka sudah memberikan contoh yang tepat buat anak mereka masing-masing. Jadi, jangan menyalahkan anak. Orangtua harus menjadi contoh pada anak bagaimana mengatasi rasa marah dan frustrasi dengan cara yang bijaksana. Misalnya, ketika orangtua kesal melihat perilaku anak, cara pengekspresiannya adalah sebagai berikut: “Ibu/Ayah kecewa karena kamu (anak) tidak meletakkan kembali mainan-mainanmu setelah kamu pakai. Ruangan ini jadinya berantakan.” Dengan mengajak anak berkomunikasi, orangtua mengajarkan pada anak untuk saling dapat mengkomunikasikan perasaan mereka.

Jangan memaksakan anak untuk ikut dalam berbagai macam aktivitas. Jangan memaksa. Nantinya anak bisa frustrasi. Pastikan juga bahwa anak mendapatkan asupan makanan serta istirahat yang cukup, punya cukup waktu untuk bermain karena dengan bermain anak bisa melepaskan ketegangan-ketegangan yang ia alami.

Jangan terlalu membatasi anak dengan banyak aturan. Aturan memang harus ada, tapi sesuaikan dengan kebutuhan anak. Ingat bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa.

Ini yang cukup sulit, yakni menjadi peka terhadap anak atas apa yang ia alami atau ia rasakan. Perlu yang namanya empati. Tanyakan pada anak dengan intonasi kata yang tidak meninggi tentang apa yang ia rasakan, apa yang alami selama di sekolah, atau yang lainnya.

Kalau terjadi tantrum, abaikan saja anak. Jangan berusaha menuruti apa yang ia mau dengan tujuan agar perilaku tantrumnya mereda namun masalahnya tidak terselesaikan. Dengan mengabaikan, orang dewasa mengajarkan pada anak bahwa anak tidak bisa menyelesaikan masalahnya hanya berperilaku marah-marah. Anak pun harus belajar tentang perilaku yang adekuat dalam mengatasi masalah dan rasa frustrasi.

Jika anak sudah mulai melempar, merusak benda-benda, atau menyakiti anak lainnya, segera bawa anak ke tempat yang sepi atau ruangan yang kosong agar ia tidak melakukan hal-hal yang tidak diharapkan. metoda ini namanya Time-Out. Abaikan saja apa yang anak tuntut. Namun, mengabaikan bukan berarti tidak memperhatikan keadaan anak. Tetap orang dewasa harus mengawasi perilaku anak.

Ketika anak frustrasi, ajaklah ia mengekpresikan kemarahan, perasaan, dan emosinya dengan cara yang bijaksana. Misalnya, menggambar wajah orang yang sedang kesal, atau jalan-jalan bersama anak, atau mengajak anak bermain. Intinya, anak melakukan aktifitas-aktifitas yang positif agar ia dapat menyalurkan emosinya. Ketika anak dapat menampilkan cara pengekspresian kemarahan dan emosi dengan cara yang bijaksana, berikan ia reward. DB

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist

Untuk konsultasi, hubungi Intan di 0813-1641-0088

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s