Tantrum: Tips Menghadapinya

 

Anak Bergulingan di Lantai Jika Marah

 

Tanya: Saya ibunda dari Rajashtra (18 bulan). Untuk tumbuh kembangnya tidak ada masalah, malah kebanyakan ia terlihat lebih pintar dari anak seusianya. Tapi minggu-minggu belakangan ini kami ada kendala. Jika ngambek, marah atau meminta sesuatu, Rajashatara selalu memukul-mukul kepalanya dengan tangannya sendiri, sambil matanya menatap kami. Seperti orang yang sedang protes atau demo. Memang pukulannya tidak kuat, tapi karena jika marah dia selalu melakukan itu, kami jadi khawatir. Kadang-kadang, saat di mall, ia juga menangis bergulingan di lantai jika keinginannya tak terpenuhi.  Apakah dia protes mencari perhatian atau ini merupakan gejala tantrum yang perlu diwaspadai? – Yusmareta – Bandar Lampung.

 

Jawab: Temper tantrum adalah hal biasa pada anak usia 16-36 bulan. Pada usia tersebut anak menjadi tidak bisa menunggu, mudah frustrasi dan sulit mendengar kata ‘tidak’, bahkan menanggapi dengan marah yang berakhir dengan teriakan atau tangisan. Meskipun hal tersebut normal berdasarkan tahap perkembangannya, anak perlu dibantu untuk dapat mengontrol tempernya.

Tantrum terjadi pada dasarnya ketika ada situasi-situasi di mana anak tidak mendapatkan yang ia inginkan. Itu bukan berarti anak nakal, tapi tantrumnya menunjukkan keinginan yang kuat untuk menjadi mandiri dan untuk mencapai apa yang ia inginkan tanpa mengalami hambatan apa pun. Anak di usia ini melihat dunia hanya berdasarkan sudut pandangnya dan belum sampai pada tahap perkembangan di mana ia mampu untuk melihat dunia berdasarkan sudut pandang orang lain. Yang penting, orangtua harus mengawasi anak agar tidak melukai dirinya ketika ia sedang marah.

 

Tetapkan Batasan

Orangtua dapat menolong anak mengontrol emosinya dengan tetap pada keputusan atau peraturan yang telah orangtua tetapkan. Anak membutuhkan konsistensi dalam hidupnya dan terserah pada orangtua untuk menerapkannya di dalam rumah. Jika orangtua mengatakan “tidak” tapi kemudian menyerah karena anak marah dan ngambek, maka anak belajar bahwa “tidak” bisa berubah menjadi “iya” jika ia memunculkan tantrumnya. Dan tanpa disadari, orangtua akan berhadapan dengan ledakan-ledakan tantrum anak yang lebih hebat lagi.

Cobalah untuk tidak marah ketika anak tantrum atau menunjukkan frustrasinya, karena marah akan memperburuk keadaan. Tenangkan anak, dan jelaskan mengapa ia tidak bisa memperoleh apa yang ia inginkan (entah anak mendengarkan Anda atau tidak pada saat itu).

Jika anak frustrasi karena tidak bisa menyelesaikan permainan puzzle, tunjukkan pada anak bagaimana cara mengerjakannya dengan mengajarkan langkah-langkah yang bisa diterapkan.

 

Tip

  • Jika memungkinkan, cegah tantrum. Orangtua mungkin sudah mengetahui dengan baik gejala-gejala ketika tantrum akan terjadi, seperti muka yang memerah, anak menjadi diam, dll. Jika sudah melihat indikator tersebut, alihkan perhatian anak pada aktivitas lain.
  • Tetaplah tenang. Anak kemungkinan besar tidak dapat mengontrol dirinya bila orangtua berteriak padanya. Dengan tetap tenang, orangtua membantu anak menenangkan diri.
  • Berikan anak keyakinan. Bicaralah dengan lembut pada anak, jelaskan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kadang dengan memberikan pelukan yang “tegas” ketika anak tantrum dapat memberikan efek menenangkan.
  • Bicara pada anak setelah tantrum-nya selesai. Diskusikan tentang perilaku tantrumnya dan jelaskan mengapa hal tersebut tidak baik dan bahwa Anda tidak akan menyetujui keinginannya jika ia berperilaku demikian.
  • Percayalah pada diri Anda sendiri. Anda perlu ingat bahwa tantrum bukanlah kesalahan orangtua melainkan muncul dari tahapan tertentu pada fase perkembangan emosionalnya. Jangan merasa bersalah, tapi hadapilah sebaik mungkin dengan tenang, tegas dan konsisten. DB

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s