Temper Tantrum: Ketika si Kecil Marah Meledak-ledak

Temper Tantrum

Ketika si Kecil Marah Meledak-ledak

 

Pernahkah buah hati Anda marah di tempat umum, menjerit, meronta-ronta bahkan bergulingan atau menendang-nendang? Padahal beberapa detik lalu ia tampaknya baik-baik saja. Psikolog menyebutnya sebagai ‘temper tantrum’ atau ‘tantrum’ saja. Bagaimana mengatasinya? Bisakah dicegah?           

 

Aries menangis, menjerit-jerit dan berguling-guling di lantai, menuntut ibunya untuk membelikan mainan mobil-mobilan di sebuah mal. Bundanya sudah berusaha membujuk Aries dan mengatakan bahwa sudah banyak mobil-mobilan di rumahnya. Namun Aries malah menjadi-jadi. Bundanya menjadi serba salah, malu dan tidak berdaya menghadapi anaknya. Di satu sisi, ibunya tidak ingin membelikan mainan tersebut karena masih ada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Namun di sisi lain, kalau tidak dibelikan, ia khawatir Aries akan menjerit-jerit  semakin lama dan keras, sehingga menarik perhatian semua orang dan orang bisa saja menyangka dirinya adalah orang tua yang kejam. Bunda yang kebingungan ini akhirnya membeli mainan yang diinginkan Aries. Benarkah tindakan sang Bunda?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya merenungkan peringatan yang disampaikan Guru Besar dari Universitas Airlangga, Prof. Soetandyo Wignyo Soebroto MPA. “Orang Indonesia tak lagi peramah, tetapi pemarah,” canda bernada serius keluar dari mulut sosiolog kenamaan ini. “Hal-hal kecil saja bisa menyulut kemarahan orang. Bukan hanya di jalanan dan di kantor, tetapi kasus agresivitas domestik juga meningkat,” imbuhnya.

Mengenai apakah orangtua yang pemarah akan membuat anaknya juga pemarah, mari kita merujuk pada peran penting orangtua sebagai role model. Kalau contoh yang ada hanya berupa pameran sikap marah hampir setiap hari dan hampir pada semua situasi, tak ayal anak akan menganggap respon kemarahan sebagai cara untuk menyelesaikan semua masalahnya.

 

Apa Itu Temper Tantrum?

Kejadian seperti tergambar dari kasus Aries di atas disebut sebagai temper tantrum atau suatu luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Tantrum seringkali muncul pada anak antara usia 15 (lima belas) bulan sampai 6 (enam) tahun.

Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap “sulit.” Siapakah anak-anak “sulit” ini? Seperti apa ciri-cirinya?

  • Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.
  • Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
  • Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
  • Mood (suasana hati) lebih sering negatif.
  • Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.
  • Sulit dialihkan perhatiannya.

 

Manifestasi Tantrum 

Tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku. Di bawah ini adalah beberapa contoh perilaku tantrum, menurut tingkatan usia.

Di bawah usia tiga tahun: menangis, menggigit, memukul, menendang, menjerit, memekik-mekik, melengkungkan punggung, melempar badan ke lantai, memukul-mukulkan tangan, menahan nafas, membentur-benturkan kepala, melempar-lempar barang.

Manifestasi tantrum pada anak berusia 3 – 4 tahun: semua perilaku tersebut di atas, menghentak-hentakan kaki, berteriak-teriak, meninju, membanting pintu, mengritik, dan merengek.

Sedangkan pada anak umur 5 tahun ke atas, tantrum tercermin dalam perilaku: semua perilaku tersebut pada dua kategori usia di atas, ditambah dengan memaki, menyumpah, memukul kakak/adik atau temannya, mengritik diri sendiri, memecahkan barang dengan sengaja, dan mengancam.

 

Apa Penyebabnya?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya tantrum.  

Pertama, terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu. Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin saja memakai cara tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia inginkan, seperti pada contoh kasus Aries di atas.

Kedua, ketidakmampuan anak mengungkapkan diri. Anak-anak punya keterbatasan bahasa. Ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa dan orangtua pun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk tantrum.

Ketiga, tidak terpenuhinya kebutuhan. Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara pelepasan stresnya adalah tantrum.

Contoh lain, anak butuh kesempatan untuk mencoba kemampuan baru yang dimilikinya. Misalnya anak umur tiga tahun yang ingin mencoba makan sendiri, atau umur anak empat tahun ingin mengambilkan minum yang memakai wadah gelas kaca, tapi tidak diperbolehkan oleh orangtua atau pengasuh. Maka untuk melampiaskan rasa marah atau kesal karena tidak diperbolehkan, ia memakai cara tantrum agar diperbolehkan.

Keempat, pola asuh orangtua. Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan tantrum. Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh orangtuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku tantrum.

Orangtua yang mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak tantrum. Misalnya, orangtua yang tidak punya pola jelas kapan melarang dan kapan mengizinkan anak berbuat sesuatu dan orangtua yang seringkali mengancam untuk menghukum tapi tidak pernah menghukum. Anak akan bingung dan menjadi tantrum ketika orangtua benar-benar menghukum.

Atau pada ayah-ibu yang tidak sependapat satu sama lain; yang satu memperbolehkan anak, yang lain melarang. Anak bisa tantrum agar mendapatkan keinginannya dan persetujuan dari kedua orangtua.

Lima, anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.

Dan keenam, anak sedang stres (akibat tugas sekolah, dan lain-lainnya) dan karena merasa tidak aman (insecure).

 

Episode Tantrum Akan Berakhir Sendiri

Dalam buku Tantrums Secret to Calming the Storm (La Forge: 1996) banyak ahli perkembangan anak menilai bahwa tantrum adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. Sebagai bagian dari proses perkembangan, episode tantrum pasti berakhir.

Beberapa hal positif yang bisa dilihat dari perilaku tantrum adalah bahwa dengan tantrum anak ingin menunjukkan independensinya, mengekpresikan individualitasnya, mengemukakan pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi dan membuat orang dewasa mengerti kalau mereka bingung, lelah atau sakit.

Namun demikian bukan berarti bahwa tantrum sebaiknya dipuji dan disemangati. Jika orangtua membiarkan tantrum berkuasa, dengan membolehkan anak mendapatkan yang diinginkannya setelah ia tantrum, seperti ilustrasi pada pembuka artikel ini, atau bereaksi dengan hukuman-hukuman yang keras dan paksaan-paksaan, maka berarti orangtua sudah menyemangati dan memberi contoh pada anak untuk bertindak kasar dan agresif – padahal sebenarnya tentu orangtua tidak setuju dan tidak menginginkan hal tersebut.

Dengan bertindak keliru dalam menyikapi tantrum, orangtua juga kehilangan satu kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal – marah, frustrasi, takut, jengkel, dll – secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut.

Dari uraian di atas dapat terlihat bahwa kalau orangtua memiliki anak yang “sulit” dan mudah tantrum, tentu tidak adil jika dikatakan sepenuhnya kesalahan orangtua. Namun harus diakui bahwa orangtualah yang punya peranan untuk membimbing anak dalam mengatur emosinya dan mempermudah kehidupan anak agar tantrum tidak terus-menerus meletup. Beberapa saran di bawah ini berguna bagi Anda, utamanya bagi para ibu/ayah muda yang belum memiliki pengalaman mengasuh anak. DB

 

 

Kiat Mencegah si Kecil yang Suka Marah

 

Pertanyaan sebagian besar orang tua adalah bagaimana cara terbaik dalam menyikapi anak yang mengalami tantrum (Suka Marah Meledak-ledak). Saran yang sebaiknya dilakukan orangtua untuk mengatasi tantrum anak-anak. Tindakan-tindakan ini terbagi dalam  tiga  bagian, yaitu mencegah sebelum tantrum terjadi, menghadapi tantrum yang sedang berlangsung, dan penanganan setelah tantrum berakhir.

Berikut ini langkah-langkah untuk mencegah terjadinya tantrum.

  • Langkah pertama untuk mencegah terjadinya tantrum adalah dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan anak dan mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi seperti apa muncul tantrumpada si anak. Misalnya, kalau orangtua tahu bahwa anaknya merupakan anak yang aktif bergerak dan gampang stres jika terlalu lama diam dalam mobil di perjalanan yang cukup panjang. Maka supaya ia tidak tantrum, orangtua perlu mengatur agar selama perjalanan diusahakan sering-sering beristirahat di jalan, untuk memberikan waktu bagi anak berlari-lari di luar mobil.
  • Tantrum juga dapat dipicu karena stres akibat tugas-tugas sekolah yang harus dikerjakan anak. Dalam kasus ini, mendampingi anak pada saat ia mengerjakan tugas-tugas dari sekolah – bukan membuatkan tugas-tugasnya lho! – dan mengajarkan hal-hal yang dianggap sulit, akan membantu mengurangi stres pada anak karena beban sekolah tersebut.
  • Mendampingi anak bahkan tidak terbatas pada tugas-tugas sekolah, tapi juga pada saat bermain. Dalam permainan-permainan, sebaiknya anak pun didampingi orangtua, sehingga ketika ia mengalami kesulitan orangtua dapat membantu dengan memberikan petunjuk.
  • Langkah kedua dalam mencegah tantrum adalah dengan melihat bagaimana cara orangtua mengasuh anaknya. Apakah anak terlalu dimanjakan? Apakah orangtua bertindak terlalu melindungi (over protective), dan terlalu suka melarang? Apakah kedua orang tua selalu seia-sekata dalam mengasuh anak? Apakah orangtua menunjukkan konsistensi dalam perkataan dan perbuatan?
  • Jika Anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan seringkali melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak, jangan heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauannya tidak dituruti. Konsistensi dan kesamaan persepsi dalam mengasuh anak juga sangat berperan. Jika ada ketidaksepakatan, orangtua sebaiknya jangan berdebat dan beragumentasi satu sama lain di depan anak, agar tidak menimbulkan kebingungan dan rasa tidak aman pada anak. Orang tua hendaknya menjaga agar anak selalu melihat bahwa orang tuanya selalu sepakat dan rukun. DB

 

 

Cara Menghadapi Tantrum

Jika tantrum tidak bisa dicegah dan tetap terjadi, maka beberapa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua:

 

Memastikan segalanya aman. Jika tantrum terjadi di muka umum, pindahkan anak ke tempat yang aman untuknya melampiaskan emosi. Selama tantrum (di rumah maupun di luar rumah), jauhkan anak dari benda-benda, baik benda-benda yang membahayakan dirinya atau justru jika ia yang membahayakan keberadaan benda-benda tersebut. Atau jika selama tantrum anak jadi menyakiti teman maupun orang tuanya sendiri, jauhkan anak dari temannya tersebut dan jauhkan diri Anda dari si anak.

 

Orangtua harus tetap tenang. Berusahalah menjaga emosi sendiri agar tetap tenang. Jaga emosi jangan sampai memukul dan berteriak-teriak marah kepada anak.

 

Membiarkan tantrum anak. Selama tantrum berlangsung, sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak memberikan nasihat-nasihat moral agar anak menghentikan tantrumnya, karena anak toh tidak akan menanggapi/mendengarkan. Usaha menghentikan tantrum seperti itu malah biasanya seperti menyiramkan bensin pada api. Anak akan semakin lama tantrumnya dan meningkat intensitasnya. Yang terbaik adalah membiarkannya. Tantrum justru lebih cepat berakhir jika orang tua tidak berusaha menghentikannya dengan bujuk rayu atau paksaan.

 

Peluk anak dengan rasa cinta. Jika perilaku tantrum dari menit ke menit malahan bertambah buruk dan tidak selesai-selesai, selama anak tidak memukul-mukul Anda, peluk anak dengan rasa cinta. Tapi jika rasanya tidak bisa memeluk anak dengan cinta (karena Anda sendiri rasanya malu dan jengkel dengan kelakuan anak), minimal Anda duduk atau berdiri berada dekat dengannya. Selama melakukan hal ini pun tidak perlu sambil menasihati atau complaint (dengan berkata: “kamu kok begitu sih nak, bikin mama-papa sedih,” atau “kamu kan sudah besar, jangan seperti anak kecil lagi dong.” Kalau ingin mengatakan sesuatu, cukup misalnya dengan mengatakan “Mama/Papa sayang kamu,” atau “Mom ada di sini sampai kamu selesai.” Yang penting di sini adalah memastikan bahwa anak merasa aman dan tahu bahwa orang tuanya ada dan tidak menolak (abandon) dia. DB

 

Kala Tantrum Berlalu

Saat tantrum anak sudah berhenti, seberapa pun parahnya ledakan emosi yang telah terjadi tersebut, janganlah diikuti dengan hukuman, nasihat-nasihat, teguran, maupun sindiran. Juga jangan diberikan hadiah apapun. Anak tetap tidak boleh mendapatkan apa yang diinginkan (jika tantrum terjadi karena menginginkan sesuatu). Dengan tetap tidak memberikan apa yang diinginkan si anak, orang tua akan terlihat konsisten dan anak akan belajar bahwa ia tidak bisa memanipulasi orang tuanya.

Berikanlah rasa cinta dan rasa aman Anda kepada anak. Ajak anak membaca buku atau bermain bersama. Tunjukkan kepada anak, sekalipun ia telah berbuat salah, sebagai orang tua Anda tetap mengasihinya.

Setelah tantrum berakhir, orang tua perlu mengevaluasi mengapa sampai terjadi tantrum. Apakah benar-benar anak yang berbuat salah atau orang tua yang salah merespon perbuatan/keinginan anak? Atau karena anak merasa lelah, frustrasi, lapar, atau sakit? Berpikir ulang ini perlu, agar orang tua bisa mencegah tantrum berikutnya.

Jika anak yang dianggap salah, orang tua perlu berpikir untuk mengajarkan kepada anak nilai-nilai atau cara-cara baru agar anak tidak mengulangi kesalahannya. Kalau memang ingin mengajar dan memberi nasihat, jangan dilakukan setelah tantrum berakhir, tapi lakukanlah ketika keadaan sedang tenang dan nyaman bagi orang tua dan anak. Waktu yang tenang dan nyaman adalah ketika tantrum belum dimulai, bahkan ketika tidak ada tanda-tanda akan terjadi tantrum. Saat orang tua dan anak sedang gembira, tidak merasa frustrasi, lelah dan lapar merupakan saat yang ideal. DB

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist Untuk konsultasi, hubungi Intan di 0813-1641-0088

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s