Tetap Bermental Juara Walau Kalah

Tetap Bermental Juara Walau Kalah

 

“Nanti kalau jadi juara satu jangan sombong ya. Begitu pula kalau tidak menang jangan menangis ya,” pesan Bunda kepada putri sulungnya yang akan mengikuti lomba fashion show di sekolah.

Di usia prasekolah, anak sudah bisa merasakan, bahwa menang itu menyenangkan. Bagaimana kalau si kecil tak bisa menerima kekalahan? Bagaimana caranya agar anak kita bisa bersikap sebagai pemenang (sportsmanship) sekalipun ia kalah dalam berkompetisi? Bagaimana cara menanamkan sportmanship?

Menang Menyenangkan, Kalah Menyedihkan

Pada usia prasekolah, anak biasanya sudah sering mengikuti berbagai lomba. Namun adakalanya si prasekolah tak bisa menerima kekalahan. Mulutnya tak henti bertanya, “Mengapa aku kalah, Mom?” Jika jawaban kita dianggap tak memuaskan, sikapnya lantas merajuk dan tak jarang berakhir dengan tangisan. Sulit sekali menjelaskan kepadanya bahwa kalah, menang, dan seri adalah bagian dari sebuah permainan.

Anak ingin menjadi pemenang karena ia menyukai rewards atau imbalannya. Selain itu, sang juara biasanya menerima banyak hadiah baik berupa barang atau pujian, dari orangtua, teman hingga saudara. Teman-teman pun akan senang bergaul dengannya, mungkin sambil menyematkan berbagai julukan, seperti si pintar, si jago lari dan lain-lain. Nah…kalau begitu masuk akal kan jika si kecil menyukai kemenangan? Sementara yang kalah, tidak mendapatkan perlakuan yang istimewa dari teman bahkan orangtuanya sendiri. “Kamu sih Dek, nggak menang, nggak dapat hadiah deh!” Hal ini tentu membuat si kecil sedih ketika kalah.

Kembangkan Sportsmanship dengan…  

  • Bentuk mental si kecil dengan tidak selalu membantu anak, tidak selalu menganggap anak masih kecil. Orangtua perlu menyadari kapan anak perlu dibantu dan kapan anak bisa dilepas untuk memecahkan masalahnya sendiri, sehingga dia akan berkembang menjadi pribadi yang tangguh.
  • Tanamkan motivasi dari dalam diri anak sendiri, sehingga dia tidak selalu harus disuruh dan ditentukan oleh lingkungannya, dalam melakukan segala sesuatu.
  • Karena pada usia prasekolah anak masih berpikir secara konkret, hendaknya orangtua menjelaskan konsep menang-kalah disertai dengan contoh. Misalnya, lewat pengamatan dan penjelasan yang tidak rumit.
  • Terangkan bahwa dalam suatu pertandingan bisa saja tidak ada yang menang atau kalah. Hindari istilah “seri” atau “draw”, karena anak belum sampai ke tahap pemikiran demikian. Lebih baik kita katakan hasilnya sama. Jelaskan seperti ini, “Tadi kamu berlari sangat cepat, tapi Dina berlari sangat cepat pula, jadi hasilnya sama, tidak ada yang menang dan kalah.”
  • Jika anak menjadi pemenang, tanamkan kepadanya agar tidak boleh sombong dan membangga-banggakan prestasinya. Jika memungkinkan, arahkan anak agar mengajari teman-temannya atau memotivasi mereka yang kalah. Cara ini mengajarkan kepada anak untuk bisa membagi kemenanganannya, sekaligus membuatnya lebih disukai teman-teman dan meminimalisir rasa iri. Meskipun begitu, bukan berarti saat anak menerima hadiah, seperti kue, dia harus membagi-bagikan kue itu dengan teman-temannya. Biarkan anak menikmati hadiah yang diraih atas kerja kerasnya. Anak berhak menikmati kemenangannya sendirian. Kecuali memang ia ingin membaginya.
  • Sedangkan jika anak kalah, pandai-pandailah kita memberikan motivasi kepadanya. Jelaskan, menang-kalah adalah hal biasa. Katakana padanya,  “Tadi berlarimu sudah kencang, hanya saja tadi Dina berlari lebih kencang. Di lain kesempatan kamu bisa menang dengan berlari lebih kencang lagi dari Dina ya!” Lalu, ajak anak belajar menghargai kemenangan temannya, dengan  berjabat tangan mengucapkan selamat.
  • Berhati-hatilah saat kita mengomentari kekalahannya. Hindari kalimat, seperti “kamu kalah”, cukup katakan “kamu sebenarnya tidaklah kalah, tapi kamu kurang cepat saat berlari.” Orangtua pun jangan terlalu ngotot menjadikan anaknya sebagai juara dalam berbagai kompetisi. Ingat, usia prasekolah bukanlah usia untuk berprestasi. Anak usia ini masih dalam usia perkembangan.
  • Alangkah baiknya, dalam menilai kalah atau menang, orangtua menilai proses, bukan hasil. Dalam lomba lari, misalnya, jangan cuma kecepatannya saja yang dipuji tapi juga usahanya dalam berlatih atau kerja kerasnya dalam mengikuti lomba lari tersebut. Kalau, toh, ia kalah, tidak ada salahnya tetap memberikan pujian atau bahkan hadiah spesial buatnya.
  • Menghargai proses tidak berarti kita lantas boleh mengesampingkan hasil, yaitu kemenangan. Orangtua tetap harus melakukan evaluasi kepada anak, hal-hal apa saja yang dinilai masih kurang dan masih bisa ditingkatkan. Hal-hal apa pula yang sudah benar dan mesti dipertahankan. n

Apa Sih Sportsmanship?

Sportmanship dapat dikategorikan sebagai suatu karakter atau watak yang tetap dan relatif stabil sedemikian rupa sehingga individu-individu berbeda dalam cara mereka diharapkan bertingkah laku dalam situasi olahraga. Secara umum, sportmanship mengacu pada kebaikan seperti kejujuran (fairness), kontrol diri, keteguhan hati, dan kegigihan yang diasosiasikan dengan konsep-konsep interpersonal seperti memperlakukan orang lain dan diri sendiri dengan fair, mempertahankan kontrol diri ketika berurusan dengan orang lain, dan menghargai pihak berwenang dan lawan. Adapun lima aspek dari sportmanship, yaitu:

  • Komitmen yang penuh untuk berpartisipasi (Contoh: tampil, bekerja keras selama latihan dan pertandingan, mengakui kesalahan dan mencoba memperbaiki).
  • Menghargai dan memperhatikan peraturan-peraturan.
  • Menghargai dan memperhatikan adat kebiasaan sosial (Contoh: berjabat tangan, mengakui penampilan lawan yang baik).
  • Menghargai dan memperhatikan lawan (Contoh: meminjamkan perlengkapan kapada lawan, sepakat bermain meskipun lawan datang terlambat, tidak mengambil keuntungan dari lawan yang cedera).
  • Menghindari sikap yang buruk terhadap partisipan (Contoh: tidak menghalalkan segala cara untuk menang, tidak memperlihatkan kemarahan terhadap suatu kekalahan dan tidak menonjolkan diri secara berlebihan). N

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D

Untuk konsultasi lebih lanjut, hubungi Intan di 0813-1641-0088.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s